Adakah beda antara kemiskinan absolut dan kemiskinan nurani? Beda dua bentuk kemiskinan itu sangat signifikan. Kemiskinan absolut disebabkan minimnya, bahkan nol, akses sumberdaya fisik dan non-fisik yang dimiliki seseorang untuk berusaha. Yang dimiliki tinggal tenaganya saja. Akibatnya kebutuhan hidup walau minimum tidak terpenuhi secara cukup. Sementara kemiskinan nurani tidak selalu sejalan dengan kemiskinan absolut. Artinya bisa jadi secara fisik seseorang kaya harta atau berstatus sosial relatif tinggi tetapi ternyata miskin nurani. Lebih tegasnya kemiskinan nurani ditunjukkan dengan kurangnya kepekaan dalam bentuk kepeduliaan dari seseorang atau sekelompok orang akan keadaan lingkungan masyarakat yang tertinggal.

          Sebaliknya mereka yang tergolong miskin harta bisa jadi kaya akan nurani. Saya sering meneteskan air mata ketika melihat acara serial khusus di salah satu saluran televisi dimana ada seseorang yang termasuk golongan tidak kaya, hidup pas-pasan, ternyata secara ikhlas mau menolong mereka yang membutuhkan bantuannya. Ada yang membantu dalam bentuk uang seadanya, pakaian, makanan, tenaga dan bahkan ada yang mendonorkan darahnya untuk membantu seseorang yang akan dioperasi. Ternyata di dalam nuraninya tersimpan mutiara hati kepedulian untuk merasakan penderitaan orang lain. Itulah suatu miniatur sosial si miskin harta tapi kaya nurani. Namun yang jelas ada juga seseorang yang kaya harta dan sekaligus kaya nurani. Subhanallah.

         Ketika beberapa hari lalu tersiar berita ada anggota DPR yang jadi tersangka lagi karena kasus suap untuk suatu proyek tertentu, saya hanya mengurut dada. Betapa begitu galaunya hati ketika kemiskinan masih merajalela namun di sudut sana ada individu yang miskin nurani. Mudahnya keputusan untuk berbuat moral hazard seakan tak ada lagi kisi-kisi norma etika berkehidupan sosial. Solidaritas sosial dikorbankan demi kepentingan individu.

         Bandingkan dengan fenomena ini yakni kalau DPR sedang membahas adanya berbagai fasilitas mewah DPR. Pasti mereka tersenyum simpul dan mengiakan. Mengapa mereka begitu teganya menutup mata-telinga dan hati ditengah-tengah penderitaan rakyat? Dimanakah kekayaan nurani mereka yang mengaku dirinya wakil rakyat? Kemana bersembunyinya hati nurani mereka yang tergolong lantang sering mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini?