Dalam beberapa hari ini insya allah, ummat islam akan merayakan lebaran. Tidak saja institusi di tingkat mikro rumahtangga, di tingkat makro pun pada bakal sibuk menghadapi datangnya masa lebaran setiap tahun. Di tingkat makro, antara lain bagaimana pemerintah harus sudah mengantisipasi arus mudik lebaran. Bagaimana dengan infrastrukturnya? Bagaimana dengan armada angkutan? Bagaimana dengan petugas ketertiban dan keamanan? Bagaimana menjaga keseimbangan suplai dan permintaan barang-barang kebutuhan lebaran khususnya pangan?

          Di tingkat mikro, bagaimana sang kepala keluarga harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Yang pertama adalah menentukan apakah tahun ini akan pulang mudik atau tidak? Kalau ya mau kemana; apakah ke orang tua ataukah ke mertua; atau tidak kemana-mana alias tinggal di rumah saja? Kemudian bagaimana pulang mudiknya; apakah lewat darat, udara, ataukah laut? Apa saja yang akan dibawa sebagai oleh-oleh; apakah dalam bentuk barang ataukah uang, ataukah kedua-duanya? Bagaimana dengan keperluan untuk kebutuhan pangan dan pakaian keluarga untuk meramaikan suasana lebaran? Berapa zakat, infak dan sedekah akan dibagikan dan kepada siapa?.

          Nah untuk itu, bagaimana tentang besaran finansialnya?. Karena biasanya pengeluaran lebaran akan jauh lebih besar dibanding pengeluaran sehari-hari. Darimana sumbernya; apakah menambah jam kerja, menggadaikan barang-barang seperti motor, perhiasan, kulkas, ataukah meminjam uang dari orang lain, ataukah tidak menambah anggaran.? Dan jangan lupa ada kegiatan yang lain yakni mengatur pembagian pekerjaan rumah tangga ketika sang asisten rumahtangga pulang mudik. So itulah gambaran singkat bagaimana suatu keluarga melakukan perencanaan dan pelaksanaan program lebarannya. Apakah itu berlaku juga bagi sang keluarga dhuafa atau kaum papa?

         Siapapun, termasuk kaum dhuafa juga memiliki perencanaan lebaran. Namun tentu saja kita sudah bisa memperkirakan perencanaan lebaran yang dilakukan kaum dhuafa tidak seperti perencanaan ideal keluarga di atas. Walau dengan finansial seadanya, kepala keluarga mereka juga membuat perencanaan yang sama. Yang membedakannya adalah dalam hal lingkup kegiatan, jumlah dan nilai pengeluarannya. Walau dalam keadaan finansial yang pas-pasan, mereka juga sudah pasti paling tidak memikirkan tentang jenis makanan dan pakaian seadanya buat sang anak dan isterinya.

          Lebaran merupakan milik ummat islam. Lebaran dipandang sebagai fenomena relijius untuk mensyukuri nikmah Allah setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan. Lebaran ditempatkan dalam suasana bathin yang sangat istimewa. Sekecil apapun lingkup kegiatannya, setiap keluarga akan merencanakan kedatangan hari yang ditungu-tunggu itu. Mereka bakal bersuka cita menghadapinya. Bagi mereka yang tergolong muzzaki tidak segan-segan dengan ikhlas mengeluarkan sebagian dari harta atau uangnya untuk membantu keluarga dhuafa atau mustahik. Mereka bakal memperoleh kebahagian lahir bathin yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena mereka telah ikut membahagiakan orang lain. Mereka telah menerapkan rasa keadilan dan kebersamaan. Subhanallah. Selamat Idul Fitri 1432 H. Maaf memaafkan; Doa mendoakan. Amiin.