Sebenarnya pensiun adalah fenomena alami ketika seseorang yang usianya dianggap sudah lanjut harus sudah tidak berstatus pegawai tetap lagi. Begitu pula yang bersangkutan tidak bisa mengelak ketika peraturan menyebutkan pada usia tertentu harus sudah siap pensiun. Dengan kata lain yang bersangkutan harus ikhlas. Namun kata pensiun tidak jarang diasosiasikan dengan gambaran “menakutkan”. Hal itu biasanya muncul setelah masa tiga bulan-enam bulan pertama masa pensiun dilewati. Ketika itu terjadi maka diperkirakan ada beragam fenomena psikologis yang muncul. Pertama, merasa bingung apa yang harus diperbuat akibat sudah tidak punya kegiatan lagi. Kedua merasa kesepian dibanding ketika masih aktif sebagai pegawai. Ketiga, merasa biasa-biasa saja. Kemudian bisa jadi karena sang pensiunan belum mempersiapkan rencana kegiatan sesudah pensiun secara matang. Hal demikian, bisa juga karena yang bersangkutan merasa tidak memiliki sumberdaya khususnya dana dan pengalaman serta jejaring bisnis.misalnya untuk berwirausaha. Sementara yang ketiga biasanya sang pensiunan sudah memiliki rencana kegiatan pasti yang telah dirintis sebelum pensiun.

          Sudah banyak rujukan bagi para pensiunan bagaimana mengisi kekosongan waktu. Umumnya isi rujukan berkisar pada bagaimana mencari peluang berwirausaha. Disitu diberi contoh berbagai peluang bisnis melalui investasi mulai dari modal relatif “kecil-kecilan” sampai modal “besar”. Diberi informasi pula bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan. Sementara di bidang non-wirausaha seperti dalam kegiatan mengajar, memberi ceramah atau materi seminar dan menulis buku hampir-hampir tidak ada rujukannya. Padahal itu juga merupakan kegiatan mengisi masa pensiun yang produktif. Di sisi lain ada juga pensiunan yang tidak melakukan kegiatan yang bersifat “mencari nafkah”. Yang dilakukan para pensiun seperti ini adalah dalam bentuk kegiatan sosial. Mulai dari kegiatan di organisasi kemasyarakatan berskala tingkat rukun warga dan kelurahan sampai tingkat nasional bahkan tingkat internasional. Contoh untuk pensiunan seperti ini adalah yang dilakukan seorang jenius sekaligus pebisnis raksasa; Bill Gates. Dia memutuskan untuk pensiun pada 27 Juni 2008 dari Microsoft setelah lebih dari 33 tahun mengembangkan bisnisnya dengan penuh kontroversi dan keberhasilan puncak di dunia. Sekarang Bill Gates akan menghabiskan waktunya pada sebuah yayasan yang didirikan bersama istri dan keluarganya yakni Bill & Melinda Gates. Bagaimana masa pensiun diisi oleh seorang guru besar?.

          Sebagai seorang guru besar emeritus, saya sudah menjalani masa pensiun selama tiga tahun lebih. Alhamdulillah masih masih mendapat kepercayaan dari IPB untuk terus mengajar dan membimbing mahasiswa. Di tahun 2011 kegiatan mengajar dengan lima mata kuliah bagi mahasiswa semua dan di semua semester. Saya pun masih bertugas membimbing mahasiswa semua strata sebanyak 26 orang. Diperkirakan kalau jumlah mahasiswa bimbingan tidak bertambah maka berarti saya baru akan menyelesaikan bimbingan dua sampai tiga tahun ke depan. Terutama untuk membimbing 21 kandidat doktor. Kegiatan membina para dosen muda pun terus dilakukan.

           Di samping mengajar dan membimbing saya akan terus menulis buku ilmiah seperti yang selama ini saya lakukan. Insya allah tahun ini diharapkan sudah diterbitkan sebuah buku berjudul Manajemen Etika Binis yang ditulis bersama isteri saya. Penelitian dan menjadi konsultan pun masih akan terus dilakoni.Nah pilihan yang lain adalah ingin menjadi seorang blogger sejati. Berblog ria adalah pekerjaan yang begitu mengasyikan sejak empat tahun lebih. Karena blog-lah saya semakin terdorong untuk selalu membaca beragam rujukan ilmiah dan non-ilmiah. Saya harus taatasas sesesuai dengan motto blog saya: “Syiarkanlah kebajikan walau cuma satu kata semata-mata untuk memperoleh ridha Allah”.

          Bagi saya, pensiun adalah bukan sesuatu yang harus membuat sang pensiunan khawatir atau takut. Banyak yang bisa dikerjakan. Pilihan begitu banyak. Tidak kecuali mengasuh cucu di rumah; asalkan itu adalah pilihannya yang terbaik. Begitu pula dengan pilihan-pilihan lainnya. Pasti seorang pensiunan sekali memilih kegiatan tertentu dia sudah mempertimbangkan manfaat dan konsekuensinya. Jadi yang terpenting isilah waktu-waktu ke depan dengan kegiatan apapun. Insya Allah stres dan bahkan depresi tak bakal muncul. Demikian pula dengan seorang guru besar. Pilihan habitat akademik yang diambilnya mungkin menjadi dunianya yang paling membahagiakan.