”Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya hendaklah ia senantiasa menjaga silaturahim.” (HR Muslim, dari Anas bin Malik RA). Lewat silaturahim tidak saja hubungan lahir yang mampu dipelihara tetapi juga bathin. Dengan demikian silaturahim seharusnya mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapi individu dan kelompok. Silaturahim bermanfaat untuk mengukuhkan persaudaraan dan untuk selalu berbagi pengalaman; bercerita, dan mendengarkan. Intinya mampu membangun atau berbagi rasa simpati dan empati.

       Dengan berbagi, tiap individu organisasi menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang dihadapi, sesungguhnya yang bersangkutan tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Insya Allah spirit hidup pun tumbuh kembali.

          Dalam hadis di atas, Rasulullah sangat menganjurkan silaturahim, yang hikmahnya antara lain akan membuat kita jadi panjang usia. Artinya kalau saja tidak rajin silaturahim, dengan sedikit masalah saja akan membuat seseorang mudah pesimis dan putus asa. Dengan memperbanyak dan meningkatkan mutu silaturahim, masalah apa pun yang menimpa, seharusnya bisa dihadapi dengan ketegaran. Kita bisa saling mengingatkan untuk tidak berputus asa, sebagaimana bunyi akhir ayat 214 surat Al-Baqarah, ”…. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” Para ulama telah bersepakat bahwa menghubungkan silaturahim sesama kaum kerabat adalah wajib di mana perbuatan memutuskannya adalah haram, dan mereka yang memutuskannya dianggap telah berdosa. Ringkasnya hubungan silaturahim adalah suatu amalan yang wajib dipelihara. Bahkan pengiriman pesan singkat (sms) pun,misalnya bertanya tentang kabar, ada permintaan tertentu, ada informasi tertentu), yang kemudian direspon, sebenarnya merupakan bentuk silaturahim.

        Dalam teori perilaku dan pengembangan organisasi, dikenal adanya unsur komunikasi dan bentuk hubungan. Baik hubungan antara atasan dan subordinasi (bawahan) atau sebaliknya; maupun antara karyawan sejawat. Jenis hubungan bisa formal dan informal. Yang sangat berkait dengan silaturahim adalah bentuk hubungan informal. Wujudnya adalah kegiatan-kegiatan sosial seperti acara makan siang bersama, piknik bersama, dan olahraga bersama. Tujuan utamanya adalah dalam membangun persaudaraan atau kekeluargaan. Asumsinya tiap anggota atau warga adalah merupakan subsistem keluarga yang lebih besar yakni organisasi. Ketika hubungan informal terjadi maka jurang perbedaan status sosial semakin minimum. Beberapa studi menunjukkan bahwa semakin intensif dan semakin bermutunya hubungan informal semakin tinggi motivasi dan kepuasan kerja anggota yang pada gilirannya semakin tinggi kinerjanya.

About these ads