Apa ciri-ciri ketika sang bos sedang menunjukkan kekuasaannya? Lihat saja bahasa tubuhnya ketika berhadapan dengan subordinasi (bawahan), khususnya ketika sedang marah. Antara lain: (1) nada bicaranya banyak tekanan-tekanan dan membuat sang subordinasi seolah tanpa daya untuk meresponnya; (2) mengerutkan dahinya; (3) tangannya bertolak pinggang atau melipat tangan ke belakang; (4)tak menampakkan senyum; dan (5) duduk dengan menyilangkan kaki. Apa yang terjadi pada sang subordinasi?

          Ketika menghadapi bos dengan kekuasaannya maka subordinasi bisa saja mengalami grogi, bingung, dan tidak tenang atau biasa-biasa saja. Isyarat tubuhnya umumnya ditunjukkan dengan tatapan mata ke bawah atau kesamping, melipat tangan ke depan, dan bisa saja keluar keringat dingin. Kalau subordinasi tidak merasa bersalah ada perasaan bercampur baur antara mau marah atau mengalah. Saat itu subordinasi bisa saja merasa geram dengan raut wajah kesal dan bahkan merah padam. Ketika itulah subordniasi biasanya berdiam dan atau harus bersabar. Namun mereka yang berani” biasanya tidak mau mundur atau menyerah. Tentunya pada waktu yang tepat mereka punya dorongan untuk membela diri. Sebaliknya kalau memang bersalah biasanya subordinasi berdiam diri dan memberi isyarat tubuh mengiyakan (ngangguk-ngangguk) apa yang diucapkan sang bos. Dan dalam kondisi seperti itu subordinasi sebaiknya menyatakan bahwa di lain kesempatan dia akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi.

         Ketika sang bos sedang menunjukkan kekuasaannya berarti keegoannya sedang tinggi. Subordinasi dikondisikan sedemikian rupa untuk mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Cenderung tidak bersedia menyediakan ruang terbuka bagi subordinasi untuk berespon dengah ucapan. Ketika itu dia ingin dihormati dan dipuji kepemimpinannya. Ada beberapa trik atau tip yang bisa digunakan oleh subordinasi yakni (1) jadilah pendengar yang baik dan simaklah kata-kata dan bahasa tubuh sang bos dengan cermat; (2) hindari untuk membantahnya ketika keegoan sang bos sedang taraf puncak; (3) berilah respon ketika ada tanda-tanda subordinasi diberi peluang untuk itu; (4) jangan kikir dalam memberi pujian atau penghargaan kepada sang bos secara wajar; dan (5) sebaliknya janganlah menunjukkan perilaku penjilat karena ini akan merusak karakter subordinasi bersangkutan.

          Sebagai manusia, siapapun dia, suatu ketika secara naluri berkeinginan untuk menunjukkan kekuasaan di hadapan orang lain. Mulai dari tingkat satpam, karyawan biasa, sampai manajemen puncak punya perilaku seperti itu. Dalam suatu keluarga pun sama saja; misalnya sang ayah-ibu, orangtua dan mertua, dan anak-anak tertua. Yang membedakannya hanya derajad dan frekuensinya saja. Ketika itu terjadi maka keegoan (egoistis dan egosentris) dari mereka yang menganggap dirinya “bos” menjadi lebih dominan ketimbang sisi rasionalnya.