Ketika seseorang abdi negara memiliki kepercayaan untuk memangku jabatan tertentu maka disitu ada makna amanah. Ketika itu terjadi maka keberhasilannya sangat bergantung pada niat kuat untuk mengabdi buat rakyat,organisasi dan bangsa. Dan tentunya juga oleh faktor-faktor ekstrinsi atau di luar dirinya. Ketika amanah tidak bisa ditegakkan dengan lurus maka disitu berarti ada distorsi kepribadian. Antara lain dalam bentuk perubahan niat menjadikan jabatannya sebagai jembatan untuk memumpuk kekayaan terus menerus di jalan yang tidak lurus. Kasus seorang hakim yang seharusnya mampu menegakkan keadilan dengan arif dan bijaksana ternyata sebaliknya. Kini yang biasa memiliki otoritas untuk menghakimi tersangka telah berubah menjadi tersangka. Sebuah tragedy betapa bahayanya kalau menghamba pada kekuasaan dan harta. Bukan menghamba pada Allah. Padahal ketika seseorang diberi amanah dia berikrar dalam sumpah jabatan dengan menyebut “Demi Allah”.

“Demi Allah ! Saya bersumpah, Bahwa saya, untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga; Bahwa saya akan setia dan taat kepada Negara Republik Indonesia; Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan; Bahwa saya tidak akan menerima hadiah atau suatu pemberian berupa apa saja dan dari siapapun juga, yang saya tahu atau patut dapat mengira, bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya; Bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya, senantiasa akan lebih mementingkan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri atau golongan; Bahwa saya senantiasa akan menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan Pegawai Negeri; Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara”.