Seseorang bermuka masam biasanya dicirikan; wajah pucat, tidak berseri atau tidak bercahaya. Sudah bisa dipastikan ada gundah gulana, kesedihan dan kekesalan pada dirinya. Entah disebabkan faktor di dalam ataukah di luar dirinya. Faktor di dalam berupa ketidakberdayaan melakukan sesuatu dan menghasilkan sesuai dengan harapan. Sementara faktor luar antara lain karena ada perilaku orang lain yang ”menyebalkan”. Lalu menyebabkan dirinya tidak puas, kesal dan bahkan benci kepada orang tersebut. Hal demikian bisa saja karena ada konflik dengan rekanan bisnis, konflik keluarga, konflik dengan bawahan dan atasan yang mengganggu kenyamanan diri dan bisnisnya. Dalam kondisi seperti itu bias jadi seseorang langsung merasa sedih dan kecewa. Lalu bermuram durja. Dan tidak segan-segan dia marah sana-sini pada lingkungan sekitarnya.

       Bermuka masam adalah fenomena manusiawi. Bisa terjadi pada siapapun termasuk di kalangan manajer. Namun bukan berarti tidak perlu ada upaya memerkecilnya. Mengapa? Kalau bermuka masam dibiarkan begitu saja berlama-lama maka sudah bisa diduga lingkungan sosial langsung dan tidak langsung akan merasa terganggu. Paling tidak timbul tanda tanya di kalangan karyawan dan rekan manajer lainnya. Kalau itu terjadi maka masalah pertama yang bakal dihadapi adalah munculnya hambatan komunikasi khususnya dalam bentuk vertikal. Para karyawan akan segan dan sungkan untuk bertegur sapa dengan manajer. Bahkan kalau bisa menghindari sang manajer untuk bertatap muka. Padahal ketika itu subordinasi sedang menghadapi masalah pekerjaan dan memiliki gagasan tertentu untuk mengatasinya. Koordinasi kerja pun akan terganggu. Dengan demikian umpan balik pun gagal dilakukan. Kalau berkepanjangan, pada gilirannya kinerja kelompok karyawan bakal terancam menurun.

       Seorang manajer adalah sekaligus sebagai seorang pemimpin. Karena kedudukannya itu maka seorang manajer seharusnya mampu mengatasi emosi yang dapat membuat fatal pada organisasi. Dia harus mampu memisahkan mana masalah pribadi dan mana yang menyangkut pekerjaan. Jangan sampai hanya karena masalah pribadi namun mengganggu kenyamanan karyawan dalam bekerja. Kalau manajer tetap saja bermuka masam berarti dia sangat egoistis. Idealnya manajer mampu “menyembunyikan” kegundahan akan sesuatu ketika sedang di dalam lingkungan kerja. Di sinilah kepribadian manajer yang gigih dan tabah sangat dituntut ketika menghadapi setiap persoalan dirinya. Dia akan berpikir panjang khususnya dalam memertimbangkan resiko pekerjaan yang bakal terjadi akibat dari bermuka masam terhadap kinerja perusahaan.

       Sebagai tenaga profesional, seorang manajer seharusnya mampu membuat kepentingan dirinya secara seimbang dengan kepentingan organisasi. Kepentingan organisasi adalah tercapainya kinerja profitabilitas maksimum. Sementara kepentingan karyawan adalah kinerja individu (manajemen dan nonmanajemen) berupa kepuasan maksimum (produktifitas dan kompensasi). Dengan kata lain persoalan pribadi seperti bermuka masam dipandang sebagai bentuk enerji negatif. Hanya menghasilkan sesuatu yang kontra produktif saja. Kalau itu dipahami secara mendalam oleh sang manajer berarti dia telah memiliki karakter yang bijak dan profesional. Dalam konteks ini peranan manajemen puncak dalam mengawasi perilaku dan membina semua manajer menjadi sangat strategis.