Tiap tahun Kebangkitan Nasional (KN) dirayakan dan ketika itu pula kita belum menemukan upaya strategis dan hasil dalam mengangkat bangsa kita dari keterpurukan. Fenomena kasat mata antara lain terlihat dari tingkat pengangguran kerja dan kemiskinan. Jumlah mereka yang menganggur pada tahun 2009 mencapai sekitar 14 juta orang, sementara jumlah mereka yang tergolong miskin mencapai sekitar 30 juta orang. Keadaan demikian sangat terkait dengan masalah sumberdaya manusia (SDM). Apakah SDM sebagai penyebab dan apakah sebagai akibat.

        Kondisi SDM jelas ada pengaruhnya dengan daya saing bangsa. Menurut “The 2006 Global Economic Forum on Global Competitiveness Index (GCI)”, kondisi Indonesia berada pada tingkat yang lebih rendah ketimbang beberapa negara Asean lainnya seperti Singapaura (peringkat 7), Malaysia (21), dan Thailand (28).; namun berada lebih tinggi dibading Vietnam (68) dan Filipina (71). Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh daya saing SDM. Dalam laporan ”World Competitiveness Yearbook”, kondisi daya saing SDM Indonesia di tingkat regional berada pada posisi yang lebih rendah yakni peringkat 50 dibanding India (43), Malaysia (26), Korea Selatan (24) dan Singapura (5).

       Kondisi SDM yang rendah sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Secara agregat kondisi ini mempengaruhi produktivitas nasional. Hal demikian juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang sementara ini hanya mencapai 6,1% yang berada dibawah target sebesar 6,5%. Pada gilirannya daya saing bangsa juga akan rendah. Dengan kata lain akumulasi berbagai faktor, kebijakan, dan kelembagaan yang performanya rendah akan mempengaruhi produktivitas nasional.Karena itu pemerintah harus memperhatikan lebih serius lagi dalam hal pengembangan SDM khususnya dalam bidang pendidikan.

       Proses pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi seharusnya merupakan proses bersinambung. Artinya mulai dari metode pembelajaran yang berkonsentrasi pada pembinaan ahlak-moral dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dengan pendekatan model pembelajaran terpusat pada khalayak belajar seharusnya merupakan mata rantai yang tidak terputus. Sudah sangat dirasakan melihat gejala-gejala terjadinya degradasi sosial di berbagai bidang maka pendidikan karakter sudah saatnya menjadi fokus sentral pendidikan nasional.

        Untuk itu kebersinambungan penyediaan pengajar yang bermutu, fasilitas pembelajaran yang cukup, dan kesejahteraan guru dan dosen yang memadai menjadi hal sangat strategis. Kita hanya bakal berhenti dalam impian saja kalau unsur-unsur proses pembelajaran tidak seperti itu. Karena itulah amanat undang-undang tentang dana pendidikan sebesar 20% dari APBN secara bertahap seharusnya mulai ditingkatkan. Sementara itu kesempatan dan pembinaan pada lembaga pendidikan swasta untuk meningkatkan mutu pembelajaran perlu terus diintensifkan.