Sebagai seorang manajer, pada hakekatnya anda ingin para karyawan memiliki tingkat kedisiplinan tinggi dan paling tidak sesuai standar perusahaan. Kedisiplinan memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Untuk itu tak sedikit  upaya yang dilakukan perusahaan; apakah melalui pelatihan dan pengembangan apakah dengan sistem pengendalian personalia. Namun demikian tidak jarang hasilnya belum optimum. Hal ini membuat tandatanya mengapa demikian dan sepertinya masalah kedisiplinan sebagai sesatu yang misterius.

       Kasus berikut ini tidak jarang ditemukan dalam perusahaan. Katakanlah Anda sebagai pimpinan dari sebuah perusahaan suatu saat sempat memperhatikan seorang karyawan yang Anda tempatkan pada posisi menentukan. Pengamatan Anda menunjukkan bahwa karyawan tersebut tidak mau bekerja sama pada waktu usaha ekstra diperlukan, segan menjadi sukarelawan untuk melakukan pekerjaan lembur, datang terlambat, memperpanjang waktu istirahat, terus menerus mengeluh dan tidak mau mematuhi instruksi.

       Gejala apa yang sedang dialami karyawan anda tersebut dan apa yang akan anda lakukan terhadap karyawan yang berperilaku seperti itu. Di sisi lain Anda akan kesulitan menemukan gantinya karena ia memiliki keterampilan yang tidak banyak orang lain miliki. Apa yang sebaiknya Anda lakukan apakah melatih karyawan yang sudah ada ataukah mencari karyawan baru dengan persyaratan insentif tertentu? Atau bahkan dengan memberi sanksi? Bagaimana caranya agar perilaku karyawan seperti itu tidak ditiru oleh karyawan lainnya? Semua itu sering menjadi pilihan dilematis seperti juga yang diungkapkan dalam kasus berikut ini.

       Dari hasil penelitian seorang mahasiswa pascasarjana di suatu perguruan tinggi diperoleh kesimpulan ada hubungan positif antara motivasi kerja karyawan dengan tingkat kedisiplinannya untuk masuk kerja. Makin tinggi motivasi makin tinggi pula derajad kedisiplinan karyawan. Begitu pula didapatkan ada hubungan positif antara kedisiplinan kerja dengan derajad kerja keras karyawan. Temuan ini seharusnya menggembirakan manajer namun kenyataannya tidak demikian.

        Ternyata dari temuan aspek lainnya tidak terdapat hubungan antara kerja keras dengan mutu kerja. Padahal suasana kehidupan kerja di perusahaan ini tergolong kondusif. Dengan demikian tampak kerja keras disertai etika kedisiplinan dari karyawan tidak menjamin akan menentukan mutu kerja yang dihasilkannya. Berarti pula masih ada faktor lain yang berhubungan dengan mutu kerja. Nah hal inilah yang sering tidak diketahui oleh si manajer itu. Apakah karena ada faktor intrinsik (kecerdasan) ataukah ekstrinsik seperti kurangnya kontrol dari sang manajer.