Dari lalu lalang kendaraan di jalan tol sebenarnya banyak yang bisa dipelajari. Bukan untuk menelaah jenis dan merek mobil dengan segala kecepatannya yang begitu beragam. Tetapi untuk mengaitkan karakteristik pemanfaatan tol dengan fenomena kehidupan manusia. Ketika kita mengendarai tol yang pertama dibayangkan adalah jalur cepat bebas dari segala hambatan. Hambatan dari adanya simpangan, kerumunan lalu lintas dan para pejalan kaki. Bebas dari dua hambatan itu katakanlah terjadi, Namun apakah benar-benar tidak ada hambatan yang lain? Tidak juga.

        Bentuk hambatan yang tidak jarang ditemukan adalah ketidakdisiplinan pengendara. Ada yang menggunakan jalur cepat (bagian terkanan jalan) namun kecepatan mengendarainya hanya sekitar 60 km perjam. Sementara ada juga yang menggunakan bahu jalan dengan kecepatan tinggi. Begitu pula ada yang tenang-tenang saja menyalip mobil sana sini dalam jarak yang sangat dekat. Layaknya seperti berkendaraan di arena sirkuit lomba otomotif. Jelas saja perilaku pengendara yang tidak disiplin itu bisa menggangu bahkan mendatangkan bahaya buat orang lain. Lalu apa kaitan gambaran semua itu dengan dunia kerja di suatu perusahaan?

       Dunia kerja dalam suatu organisasi atau perusahaan adalah tempat bertemunya para pemangku kepentingan internal. Disitu ada kelompok karyawan mulai dari tingkat top manajemen, manajemen menengah sampai staf dan operator. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dalam konteks koordinasi mereka saling berinteraksi satu sama lainnya dalam mencapai tujuan organisasi. Kenyataannya ada koordinasi yang efektif namun ada saja yang juga menimbulkan konflik. Ada karyawan yang disiplin ada yang tidak. Ada yang kreatif dan ada yang mandeg. Ada yang menghargai orang lain dan ada yang gemar mencemooh. Ada yang konsisten dengan jalur karir normatif namun ada juga yang suka menyalip. Jelas saja kalau itu terjadi ada orang lain yang dirugikan. Persis seperti gambaran di jalan tol.

       Semua fenomena di atas sangat berkait dengan karakter-perilaku tiap individu karyawan bersangkutan. Perilaku seseorang merupakan fungsi antara lain dari derajat pemahaman ajaran agama, pendidikan formal dan informal, dan lingkungan kerja. Pemahaman tentang ajaran agama oleh seseorang menjaminnya untuk menjadi karyawan teladan dalam dunia kerja. Pengertiannya adalah ajaran agama yang dikuasai tidak sebatas hanya pada taraf kognisi tetapi juga pada domain afeksi dan trampil dalam penerapannya. Selain itu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang cenderung semakin tinggi mutu perilaku kerjanya. Hal demikian bisa terjadi kalau dia memiliki kompetensi yang berkait dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kecerdasan kegigihan kerja. Sementara itu lingkungan kerja ikut membentuk perilaku individu karyawan. Terjadinya pengembangan dalam berpikir sistem, penerapan model manajemen partisipatif, dan pembelajaran tim kerja akan membentuk karyawan yang disiplin, toleransi, kreatif, dan inovatif.

       Perilaku karyawan yang berkinerja efektif dan efisien sangat dibutuhkan sejalan dengan semakin gencarnya persaingan bisnis. Perilaku kerja yang cuma berorientasi rutin harus sudah semakin ditinggalkan berganti menjadi perilaku kerja dinamis cepat. Pemahaman kepentingan tentang kerja yang dipandang hanyalah untuk diri sendiri perlu diubah menjadi untuk kepentingan bersama dan sasaran organisasi yang lebih luas. Dalam hal model karyawan yang hanya bermain sendiri tanpa peduli dengan mitra kerjanya bakal tidak mampu meniti karir panjang. Karena itu keberhasilan dalam bekerja sangat berkait dengan sejauh mana sang karyawan taat dengan norma yang berlaku. Tidak ada satu pun yang bebas akan aturan atau bebas hambatan. Ugal-ugalan layaknya mengemudikan kendaraan di jalan bebas hambatan. Namun demikian bukan berarti dalam konteks pengembangan kreatifitas lalu karyawan tidak boleh berpikir lateral atau di luar kotak.