Kinerja merupakan proses sekaligus output dan outcome dari seseorang dan organisasi.Kinerja dalam konteks proses dapat dilihat dari kesesuaian menjalankan pekerjaan dengan prosedur standar organisasi. Semakin sesuai dengan standar semakin tinggi mutu kinerja prosesnya. Hal demikian dapat dilihat dari unsur intrinsik karyawan berupa hubungan tingkat pendidikan, motivasi dan kepuasan kerja dengan kinerjanya. Sementara dilihat dari sisi output dan outcome dapat dilihat antara lain dari produktifitas kerja (output) dan dari karir karyawan (outcome). Semakin baik mutu kinerja proses pekerjaan karyawan semakin tinggi produktifitas kerja dan karirnya.

       Kinerja karyawan merupakan ukuran yang dinamis. Itu sejalan dengan perkembangan kapabilitas potensi karyawan dan unsur eksternal karyawan seperti kondisi lingkungan kerja, fasilitas fisik, dan manajemen kinerja organisasi. Apalagi kalau dikaitkan dengan faktor eksternal organisasi yang begitu dinamisnya apakah dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya manusia (SDM), dan pasar domestik dan global. Dengan demikian setiap elemen organisasi khususnya manajemen puncak harus memertimbangkan faktor-faktor tersebut ketika akan meningkatkan kinerja organisasinya.

        Dalam konteks karyawan maka pihak manajemen harus membuat iklim kerja yang nyaman agar para karyawan tidak menggantungkan dirinya pada kondisi organisasi atau perusahaan yang ada. Istilahnya jangan pasrah hanya dengan yang ada. Pihak manajemen pertama kali harus mengkondisikan budaya organisasi sekaligus budaya kerja kepada karyawan. Dalam budaya organisasi ditekankan bagaimana setiap elemen organisasi harus memahami visi dan misi organisasi serta strategi bisnisnya. Dengan demikian dari budaya organisasi setiap karyawan dapat memersiapkan diri untuk mampu bekerja sesuai dengan standar perusahaan. Yang terbaik adalah berada di atas standar kinerja. Dengan kata lain setiap karyawan harus dibangun dinamikanya. Jangan sampai berapapun kinerjanya para karyawan cuma pasrah total. Seperti tak ada spirit untuk mau berubah.

      Derajat pasrah dalam konteks organisasi sangat berkait dengan etos, motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Biasanya sifat pasrah dekat dengan menerima apa adanya baik dalam hal fasilitas kerja, mutu sumberdaya manusianya, dan manajemen kinerja organisasi. Padahal kondisi demikian bakal merugikan diri karyawan dan tentunya juga organisasi. Karena itu pihak manajemen harus menyediakan suatu program terencana tentang pengembangan organisasi dan mutu SDM. Dengan didukung fasilitas pelatihan, pihak manajemen menyelenggarakan pengembangan SDM secara berkelanjutan. Tidak saja yang menyangkut ketrampilan/kecerdasan kerja namun juga yang menyangkut sisi emosional dan spiritual.

      Selain itu organisasi perlu melakukan penyesuaian aspek-aspek manajemen kinerja sejalan dengan dinamika eksternal. Fasilitas-fasilitas kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Termasuk dibangunnya kelompok kerja yang berorientasi pada peningkatan mutu kehidupan kerja. Tujuannya agar motivasi dan kepuasan kerja karyawan semakin meningkat. Dengan demikian organisasi selalu siap dengan mutu SDM yang terlatih dengan didukung kondisi manajemen kinerja yang nyaman. Secara bertahap maka sikap pasrah karyawan terhadap keadaan organisasi khususnya tentang kinerja akan semakin berubah menjadi karyawan yang dinamis: kreatif dan inovatif.