Keterbukaan karyawan tidak sama dengan buka-bukaan. Keterbukaan lebih pada dorongan karyawan untuk memberi informasi pada siapapun yang berkaitan dengan pekerjaan. Misalnya tentang konsep diri, gagasan, kritisi dsb. Sementara buka-bukaan dicerminkan dengan membuka apapun tentang diri dan organisasinya sekalipun tak ada kaitannya dengan profesi yang bersangkutan. Keduanya lazim dilakukan asalkan tentu saja bersifat proporsional. Jangan sampai hanya karena masalah penyampaiannya yang kurang tepat, misalnya kasar dan tak mengenal waktu dan tempat maka timbul konflik dengan orang lain.

       Keterbukaan karyawan kaitannya dengan organisasi memiliki beberapa kegunaan. Pertama, organisasi memeroleh masukan yang berharga dalam konteks pengembangan organisasi. Misalnya mulai dari misi hingga program. Kedua, terjadi proses pengembangan potensi diri setiap karyawan. Walaupun dalam bentuk keluhan karyawan asalkan beralasan logis. Dengan demikian karyawan selalu terpacu untuk bersifat terbuka dalam segala hal yang menyangkut organisasi dan pekerjaannya. Dan ketiga, pada gilirannya keterbukaan menjadi salah satu bentuk artifak budaya organisasi.

        Sebagai budaya organisasi dan sekaligus budaya kerja, keterbukaan karyawan bisa menjadi modal sosial di tubuh organisasi. Dengan keterbukaan akan terjalin jejaring sosial dalam bentuk koordinasi kerja sesama mitra kerja, saling memercayai, menghormati, dan empati sosial. Kecurigaan dan keegoan bisa dikurangi dengan penerapan sifat keterbukaan. Malah yang terjadi adalah semakin berkembangnya proses pekerjaan yang sinerjis. Dengan demikian mutu pekerjaan akan semakin baik lagi dan kinerja perusahaan akan semakin tinggi.

        Organisasi atau perusahaan sebaiknya mengembangkan budaya keterbukaan ini. Istilahnya tak ada rahasia diantara elemen perusahaan asalkan yang berkait dengan kemajuan perusahaan. Untuk itu maka perusahaan, mulai manajemen puncak hingga manajer, perlu memberi teladan kepada semua karyawan. Mereka siap menerima masukan karyawan sekalipun berbentuk kritik. Selain itu perusahaan membuka kesempatan untuk karyawan mengikuti pelatihan-pelatihan tentang kepribadian, kepemimpinan, komunikasi, keorganisasian, dsb. Semua dikemas dalam paket pengembangan sumberdaya manusia perusahaan. Tentu saja perusahaan pun harus menempatkan sifat keterbukaan ini sebagai salah satu unsur penilaian bagi pengembangan karir karyawan. Dengan demikian tiap karyawan akan terpacu untuk selalu meningkatkan mutu konsep dirinya.