Setiap orang, apapun kedudukannya pasti punya otoritas atau wewenang. Misalnya kepala keluarga memiliki otoritas dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan anak-anaknya. Seorang dosen memiliki otoritas ilmiah untuk mengajar, meneliti, dan menulis karya ilmiah. Seorang manajer memiliki wewenang untuk mengkoordinasi para karyawannya dalam mengerjakan tugas perusahaan. Dan wewenang untuk mengusulkan kepada atasan agar karyawannya diberi penghargaan. Lalu sang atasan punya otoritas memutuskan dan memberi penghargaan. Bahkan sekalipun seseorang sebagai mandor bangunan dia punya wewenang untuk memberi instruksi dan melakukan supervisi kepada karyawannya.

        Di suatu perusahaan, otoritas seseorang melekat pada jabatan, misalnya sebagai pemimpin atau manajer. Sejauh mana otoritas seorang manajer dikatakan efektif dicirikan seberapa jauh kepatuhan karyawan untuk mentaati perintahnya. Selain itu otoritas sangat melekat pada sisi kepribadian manajer dalam bentuk sikap. Semakin tinggi mutu kepribadian semakin tinggi komitmen subordinasinya. Namun dalam prakteknya ada beberapa gaya mengembangkan otoritas yang dilakukan manajer. Apakah gaya yang dicirikan dengan kehati-hatian dan bahkan seperti ragu dalam menggunakan wewenang; terlalu percaya diri dan berlebihan dalam memanfaatkan wewenang; dan dengan cara-cara wajar sesuai dengan kebutuhan.

(1). Kehati-hatian atau ragu dalam menggunakan otoritas biasanya terjadi pada manajer baru. Dia akan melakukan orientasi lebih dahulu sebelum setiap keputusan diambil sesuai wewenangnya. Bisa juga terjadi karena tingkat pengetahuan sang manajer tidak sepenuhnya dikuasai manakala dia menghadapi permasalahan tertentu. Karena itu tidak segan-segan dia melakukan konsultasi sesama manajer dan atau ke karyawan yang senior. Tujuannya untuk mencari cara terbaik bagaimana suatu keputusan dapat diambil. Jadi sepertinya walau punya wewenang tipe manajer namun masih mengandalkan kekuatan dari luar dirinya. Gaya seperti ini kalau sering dilakukan bakal kurang efektif karena bertele-tele. Padahal suatu unit kerja membutuhkan keputusan yang sifatnya segera. Karena itu selain harus memiliki kekuatan visioner seorang manajer harus memiliki kepribadian teguh dalam menangani suatu persoalan.

(2). Dalam menggunakan otoritasnya, seorang manajer bisa bertingkah berlebihan. Istilah popnya arogan. Percaya diri yang kebablasan. Kurang melibatkan subordinasi untuk bersamanya membuat suatu keputusan. Pendekatan partisipasi sangat langka diterapkan. Bahkan cenderung wewenang yang digunakan dengan cara-cara otoriter. Dalam kondisi seperti ini para subordinasi tidak dapat berbuat banyak karena semua itu memang wewenang manajer. Dalam jangka panjang model penerapan otoritas seperti ini tidak sehat. Semacam model one man show yang memiliki kekuatan sentralistik. Dan terdapat tekanan-tekanan manajer kepada karyawannya hingga dirasakan muncul otoritas berlebihan.

(3). Ada yang ragu dan ada yang berlebihan. Manajer yang ideal dengan jabatannya adalah mereka yang menggunakan otoritasnya secara wajar. Walau terkesan tegas dan keras namun dalam penerapan otoritasnya tidak dibarengi dengan kesombongan. Manajer tipe ini mampu mengendalikan kekuatan kepribadian dan otoritasnya untuk mampu membuat lingkungan kerja menjadi nyaman. Keberanian dan kepiawaian dalam menggunakan kekuatan otoritasnya sebagai manajer dilakukan tanpa harus mengakibatkan tekanan psikologis di kalangan karyawan. Karena itu manajer bertipe ini tidak mabuk kekuasaan; malahan kerap melibatkan karyawannya berpartisipasi aktif untuk menyampaikan gagasan-gagasan.

        Otoritas adalah unsur sangat penting dalam pengembangan kepemimpinan seorang manajer. Unsur itu digunakan dalam melakukan koordinasi dan pencapaian kinerja individual manajer dan unit kerjanya. Namun dalam penerapannya harus dilakukan sedemikian rupa tanpa harus terjadinya konflik internal. Dengan kata lain diperlukan penggunaan otoritas yang cerdas dan bijak dari seorang manajer.