Mohon maaf biasanya diucapkan seseorang yang merasa punya kesalahan kepada orang lain. Sudah sangat lazim. Biasanya lalu dijawab oleh orang itu dengan kata ‘sama-sama’. Puncak panen mohon maaf di kalangan umat Islam sering mengemuka pada saat sebelum dan sehabis bulan suci ramadhan. Ungkapan memohon dan memberi maaf merupakan kewajiban ketika ada yang merasa dirinya bersalah. Namun mohon maaf tidak selalu bermotif ada kesalahan. Bisa saja itu diucapkan seseorang kepada orang lain karena ingin menghormatinya. Bisa juga terjadi  kalau-kalau orang itu dirasa akan terganggu dengan ucapan atau tindakannya. Misalnya ketika akan berjalan dihadapan orang yang sudah tua sambil berucap ‘mohon maaf pak numpang lewat’.Atau ‘mohon maaf, apakah bapak tahu rumah pak Dulo di sekitar ini? Atau dalam suatu rapat ‘mohon maaf pak ketua,  pukul berapa rapat ini selesai?’. 
         Nah mohon maaf yang berikut ini termasuk sulit diidentifikasi motifnya. Saya dan diperkirakan juga dosen lain cukup sering mendapat pesan pendek (sms) dalam ponsel berupa mohon maaf dari mahasiswa bimbingan. Contohnya, ‘mohon maaf pak, kapan saya bisa berkonsultasi dengan bapak?…..terimakasih’. Bentuk lainnya berisi pesan: ‘mohon maaf, mengganggu….apakah bapak bisa menerima kedatangan saya siang hari ini untuk menyerahkan proposal penelitian?…terimakasih’. ‘Mohon maaf pak, apakah draf  tesis saya sudah dapat saya ambil? …terimakasih’. ‘ Maaf pak, mengganggu.. apakah saya bisa ujian tesis  minggu depan ?…terimakasih’. Wah yang ini lain  lagi  yaitu ‘mohon maaf pak  apakah kiriman kenang-kenangan saya dari bali sudah diterima? Semoga bapak berkenan…terimakasih’ ..blablablabla.          
         Saya menilai  ‘mohon maaf’ dari mahasiswa bimbingan diucapkan dalam konteks rasa menghormati dosennya. Atau bisa jadi karena dalam isi pernyataannya terdapat unsur permintaan yang bisa saja mengganggu ‘perasaan’ atau merepotkan waktu sang dosen. Jadi makna lain dari ‘mohon maaf’ dapat berujud ungkapan ‘jika tidak keberatan’ atau ‘jika berkenan’. Setiap pernyataan atau pertanyaan selalu diawali dengan ungkapan  mohon maaf.  Tampaknya itu cenderung banyak terjadi di kalangan yang merasa posisinya subordinasi dalam hubungan sosial vertikal. Dalam situasi seperti itu kata maaf tidak jarang diungkap secara tidak kontekstual.Harapan kita tentunya sang mahasiswa tidak akan berlebihan ‘mohon maaf’ sementara sang dosen tidak mania ‘hormat’. Dalam segala pernyataan selalu ada mohon maaf.  Dengan kata lain proporsionallah dalam berucap “mohon maaf” kepada siapa pun.  Dan kontekstual. Di sisi lain tak ada salahnya dosen pun berucap kepada mahasiswa ‘mohon maaf Yudi, saya tidak bisa bertemu dengan anda karena tiba-tiba saya harus menghadiri rapat; nanti anda saya kontak lagi’. Atau ‘mohon maaf saya terlambat datang memberi kuliah karena jalan macet’.

        Tetapi mengapa ada juga anak manusia yang sudah jelas punya kesalahan pada seseorang namun dia tidak mau mohon maaf. Merasa dirinyalah yang paling benar. Sebaliknya ada seseorang  yang minta maaf pada orang tertentu tetapi tidak dimaafkan. Padahal akan  betapa indahnya jika di planet bumi ini semua  permohonan maaf diungkapkan dengan ikhlas. Tanpa batas rasa malu, harga diri dan hirarki sosial. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah (asy-Syura;40). Kalau itu terjadi betapa suatu maaf (meminta dan memberi) bisa menciptakan rasa damai di hati. Rasulullah bersabda: Memaafkan tidaklah menambah sesuatu kepada seorang hamba, kecuali kemuliaan. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian memaafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian (HR Ibnu Abiddunya).