Iklim kerja yang nyaman merupakan harapan semua elemen organisasi tidak kecuali di lingkungan perusahaan. Kondisi kerja yang nyaman dicirikan oleh hubungan sosial antarmitra kerja yang baik seperti terjalinnya kerjasama, dan kecilnya konflik yang terjadi. Dalam konteks praktek kerja para karyawan memiliki kedisiplinan dan komitmen kerja tinggi yang didukung dengan kepemimpinan bergaya membangun motivasi dan kemitraan. Selain itu kenyamanan suasana kerja bisa terujud karena kentalnya suasana spiritual .

      Suasana spiritual tercermin dari adanya interaksi antarpelaku organisasi yang positif dan dinamis. Mereka memiliki pandangan yang cenderung  sama yakni bekerja itu adalah ibadah. Pemahamannya bahwa bekerja bukan saja sebagai salah satu jalur untuk menciptakan kesejahteraan namun sebagai bentuk pengabdian pada Allah, keluarga, masyarakat dan tentu saja pada organisasi. Dalam konteks kinerja maka pemahaman tersebut disebut sebagai kecerdasan spiritual (SQ).

      SQ mempunyai kaitan dengan kreativitas. Tetapi kreativitas di sini juga terkait dengan masalah nilai. Dikatakan bahwa SQ memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi, bermoral baik, menentukan baik dan jahat, memberi gambaran atau bayangan kemungkinan yang belum terwujud. SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru (Abdullah, 2005).

       Menurut Sinamo (2005), SQ (Spiritual Quotient) adalah proses-proses transendensi (penyeberangan, pelampauan) terutama dari wilayah material menuju wilayah spiritual. Dalam hal ini kerja tidak lagi dimaknai hanya sekadar kegiatan mencari nafkah tetapi dihayati sebagai amal bagi sesama dan ibadah kepada Tuhan. Untuk itu kita perlu mempertebal iman dan taqwa, membangun akhlak dan pekerti yang mulia dan terpuji, serta mengutamakan berkah dan perkenan Tuhan agar hidup kita lebih bermakna, penuh sukacita dan damai sejahtera, sehinga sukses dunia akhirat.

       Dalam rangka membangun kehidupan spiritual di lingkungan kerja maka sebaiknya manajer atau bahkan manajemen puncak menjadikannya sebagai misi dan program perusahaan. Banyak jalur untuk itu antara lain dalam bentuk pelatihan tentang pemaknaan dan penerapan kecerdasan spiritual (SQ) dalam hubungan sosial dan dalam pekerjaan. Kemudian diskusi-diskusi kelompok juga bisa diadakan secara rutin dan terprogram. Mengikut sertakan para manajer dan karyawan dalam seminar-seminar yang bertemakan hubungan kinerja dengan SQ sangat dianjurkan. Bahkan dalam rangka upaya meningkatkan iman dan takwa, perusahaan pun ada yang mengirimkan para manajer dan karyawan untuk menunaikan ibadah haji dan umroh.