Uang…uang…uang. Siapa sih yang tak mengenal dan tak butuh uang. Sampai-sampai banyak dijadikan kiasan dan pepatah. Inilah sebagian dari makna uang seperti istilah mesin uang, waktu adalah uang, beruang beda dengan sang khewan beruang, uang segalanya untuk hidup ini, janji adalah utang-utang adalah uang, dan ada uang abang saya: tak ada uang abang melayang. Nah itulah uang dengan segala makna. Kalau uang segalanya maka apakah itu terjadi di kalangan karyawan di suatu perusahaan? Apakah dengan demikian karyawan akan termotivasi bekerja kalau ada insentif berupa uang semata?

      Yang utama dan hampir semua terjadi pada setiap karyawan bahwa mereka bekerja untuk memeroleh nafkah bagi pemenuhan sumber kehidupan dirinya dan keluarganya. Kecuali bagi kalangan manajer dan menengah selain sumber nafkah juga untuk aktualisasi diri. Semakin banyak uang yang diperoleh semakin terpenuhi kebutuhan kehidupan mereka. Dan itu terjadi ketika kinerja para karyawan semakin meningkat. Peningkatan kinerja mencerminkan seberapa jauh para karyawan merasa terikat pada perusahaan. Keterikatan itu sendiri tidak disebabkan hanya oleh besarnya gaji yang diperoleh namun karena faktor lainnya.

      Diakui bahwa besarnya gaji meruapakan syarat pokok karyawan berkinerja sesuai atau bahkan di atas standar. Masih ada syarat kecukupan yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Syarat kecukupan adalah bahwa manajemen kompensasi harus adil, obyektif dan terbuka. Kalau syarat itu tidak terpenuhi maka bukan tak mungkin keterikatan karyawan pada perusahaan relatif akan longgar. Selain itu mereka memiliki kebutuhan psikologis yakni diperlakukan sebagai manusia yang utuh. Keberadaan mereka seharusnya diakui tidak semata-mata hanya dengan indikasi mereka dibayar. Mereka sebaiknya juga dibayar dalam bentuk perlakuan hubungan antarmanusia yang nyaman.

      Hubungan kekeluargaan di kalangan karyawan dan pimpinan sangat membantu suasana kerja yang nyaman. Apa jadinya meskipun besaran gaji tak menjadi soal tetapi ada perubahan gaya kepemimpinan. Yang semula bergaya demokratis berubah menjadi otoriter misalnya. Semua serba perintah dan sentralistik. Gagasan atau prakarsa karyawan kurang dihargai. Semua serba pendekatan mesin bukan manusiawi. Secara gradual kalau itu dibiarkan maka tinggal nunggu saja ledakan internal tidak terhindarkan. Dan tentu saja akan menggangu kinerja karyawan yang pada gilirannya menurunnya kinerja perusahaan. Tentu saja itu terjadi kalau manajemen puncak tidak menempatkan seorang manajer yang bisa diterima para karyawannya.