“Keahlian” seorang manipulator adalah dalam menggertak orang. Dengan kata lain di lingkungan kerja manipulator tergolong penggertak, pedalang, bahkan boleh disebut sebagai pengganggu. Manipulator, disamping suka mengintimidasi, juga tidak jarang membujuk teman sekerjanya agar mau mengikuti apa yang diinginkannya. Salah satu contoh wujud tindakan sang manipulator adalah dalam bentuk manipulasi imbalan. Para manipulator tidak segan berbicara pada pengelola bahwa mereka butuh waktu tambahan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu perlu kerja lembur. Dengan demikian mereka akan memperoleh tambahan uang. Kalau tidak dipenuhi bisa jadi diantara mereka akan menyatakan atau mengancam keluar dari organisasi. Padahal yang terjadi adalah para manipulator ini sengaja menimbun atau memperlambat waktu penyelesaian pekerjaan. Dengan kata lain melakukan pekerjaan tetapi tidak mencapai standar waktu organisasi.

       Dalam bekerjanya manipulator sering kali pamrih. Apa yang dikerjakannya bukan untuk mencapai tujuan organisasi tetapi lebih untuk mencapai sasaran keinginannya saja. Mereka jarang mau berbagi beban kerja. Maunya semua pekerjaan dilakukannya atau terpusat pada dirinya sendiri. Tak ada istilah kerjasama di kalangan manipulator. Motifnya adalah di balik itu mereka akan memperoleh ”nikmat” dari memperoleh tambahan kompensasi dalam bentuk finansial dan non-finansial. Jelas mengabaikan kepentingan kawan kerja dan organisasi. Kekompakan kerja pasti terganggu.

        Karena perilakunya seperti diuraikan di atas, umumnya manipulator bukanlah tipe pegawai pemalu, dan bukan penyegan. Namun di balik itu, walau diantara mereka ada yang tergolong orang yang akhli, ternyata bukanlah pekerja keras. Telah memanipulasi keahliannya demi mencapai kehendaknya semata. Mereka lebih banyak menuntut imbalan ketimbang bekerja sesuai standar organisasi. Disamping itu mereka tergolong yang tidak berniat untuk menutupi perbedaan-perbedaan yang ada dengan teman sekerja. Manipulator selalu merasa dirinyalah orang terpenting di lingkungannya. Cenderung selalu ingin tampil paling depan dengan cara menarik perhatian orang lain melalui bualan-bualannya. Karena itu mereka selalu meremehkan rekan kerja bahkan pengelolanya.

        Kehadiran pegawai yang tergolong manipulator tentunya dapat mengganggu proses pekerjaan di organisasi. Namun harus diakui pasti ada diantara sekian ratus orang, misalnya, ada saja beberapa pegawai yang bersifat itu. Walaupun cuma segelintir orang tetapi kehadirannya bisa menjadi unsur potensial dalam mengganggu lingkungan pekerjaan. Karena itu sebagai orang yang terdekat dengan para pegawainya, pihak pengelola harus mampu melakukan antisipasi. Pengelola sebaiknya menghindari konflik langsung dengan manipulator. Dengan kata lain pengelola tidak perlu membuka medan pertempuran dengan mereka. Justru yang perlu dilakukan adalah dengan pendekatan persuasi dan bimbingan-konseling. Harapannya agar manipulator menjadi sadar tentang perbuatannya yang kurang terpuji.Di samping itu agar para pegawai lain tidak terpengaruh oleh manipulator. Namun kalau dengan cara-cara itu tetap saja mereka tidak mau mengubah perilakunya maka apa boleh buat organisasi dapat mengeluarkannya.