Dalam prakteknya, seperti layaknya seorang manusia biasa, dosen pembimbing pun mengalami kegembiraan dan kesedihan dalam proses membimbing mahasiswanya. Dan ini sangat berkait dengan mutu mahasiswa bimbingan. Semakin tinggi mutu akademik dan kedisiplinannya semakin cepat sang mahasiswa bimbingan bisa lulus. Semakin rendah mutu akademiknya, semakin ketat atau intensif proses bimbingan yang berlangsung. Belum lagi ditambah faktor kelambanan dan kemalasan mahasiswa. Tidak aneh ada yang sampai enam bulan bahkan lebih tidak nongol dan berjumpa dengan saya. Melapor pun tidak sama sekali. Padahal sudah berulang kali saya kirim SMS. Dan sedihnya diantara mereka ada yang termasuk sebagai dosen di perguruan tingginya. Terkadang disertai urut-urut dada ketika menghadapi mahasiswa bimbingan yang begitu lambannya dalam menguasai permasalahan dan kerangka berpikir ilmiahnya. Ketika itulah dibutuhkan suatu kesabaran tinggi.

         Bentuk kesedihan lainnya adalah kalau sang mahasiswa bimbingan saya tidak lulus. Sejauh ini mahasiswa strata satu lulus semua. Sementara mahasiswa strata dua ada empat orang yang tidak lulus. Faktor penyebabnya adalah ada yang tidak memiliki etika akademik, dan ada yang gagal lagi dalam kesempatan ujian ulangan. Sejauh ini, pada strata tiga, semua mahasiswa tidak ada yang gagal. Namun bukan berarti tidak ada masalah. Kalau ada di antara mereka yang tidak lulus ujian kwalifikasi doktor (prelimenary examination), saya juga sangat sedih. Dalam situasi itulah sisi non-akademik tidak luput menjadi perhatian saya ketika menjalankan proses bimbingan. Antara lain lewat pertemuan berkala (acara santai) dengan semua mahasiswa bimbingan, pertemuan kelompok, dan pertemuan individual. Dalam kesempatan itu saya memberikan semacam soft skills kepada mereka.

         Tak kurang dari 500 mahasiswa multistrata yang telah saya bimbing. Hingga kini pun masih ada 21 orang mahasiswa pascasarjana yang masih dibimbing. Secara keseluruhan, dari proses bimbingan yang saya dapatkan relatif lebih banyak bernuansa rasa gembira ketimbang rasa sedih. Bisa dibayangkan betapa gembira campur rasa harunya sang mahasiswa bimbingan ketika dinyatakan lulus. Tidak ayal lagi saya pun akan larut dalam rasa syukur kebahagiaan. Kalau toh ada mahasiswa yang lambat studinya maka tak perlu larut dalam kesedihan. itu adalah hal yang biasa dari suatu proses belajar. Namun yang harus dilakukan adalah membantu mereka agar bisa cepat selesai. Semakin cepat semakin besar kegembiraan yang diperoleh tidak saja oleh mahasiswa namun juga pembimbing.

         Keberhasilan mahasiswa bimbingan tampaknya sangat berkait dengan mutu proses bimbingan. Untuk itu proses interaksi dalam bimbingan tidak saja sebatas aspek akademik tetapi juga non-akademik atau kekeluargaan. Seiring dengan itu tiap dosen harus tetap berpegang pada koridor prinsip-prinsip utama dalam menerapkan jaminan mutu akademik yang tinggi. Dengan kata lain jangan terbawa bias masalah pribadi. Saya percaya itulah yang selama ini dipupuk oleh para dosen IPB dalam meraih keberhasilan proses membimbing mahasiswa yang bermutu.