Makna kehadiran tahun baru hijriyah sangatlah mendalam. Tidak saja berkait dengan terjadinya hijrah fisik Rasulullah dengan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Disitu ada makna proses pencerahan dari sifat-sifat jahiliyah ke arah masyarakat beriman-bertakwa. Dalam konteks yang lebih makna hijrah juga dalam cara-pola berpikir dan bertindak setiap insan. Hijrah dalam konteks bekerja berarti adanya upaya untuk selalu meningkatkan mutu kehidupan khususnya aktifitas bekerja dalam berbagai prespektif kehidupan:

1. Meningkatnya keimanan dan ketakwaan sebagai landasan relijius dan filosofis dalam memandang bekerja itu adalah ibadah untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna lagi.

2. Melakukan rekonstruksi system dan pola pembelajaran/pendidikan yang lebih berfokus pada penguatan keimanan-ketakwaan, amal soleh, mutu sumberdaya insani (SDM), dan kinerja individual. Pendidikan sosialisasi keluarga menjadi fundamen yang sangat kokoh untuk mendukung rekonstruksi itu.

3. Melakukan reposisi karyawan dari posisi sebagai unsur produksi belaka menjadi mitra kerja organisasi yang sangat potensial. Sekaligus sebagai unsur investasi efektif.

4. Meningkatkan intensitas program pengembangan sumberdaya insani karyawan dalam berpikir dan bertindak inovatif; tidak saja sebagai kewajiban namun juga sebagai salah satu kebutuhan dasar. Manajemen pengetahuan bisa ditempatkan sebagai basisnya agar pihak manajemen dan karyawan selalu mengikuti perkembangan ilmu—pengetahuan dan teknologi nutahir.

        Dalam hal ini maka pihak organisasi harus memiliki semacam cetak biru dan rencana strategis pengembangan sumberdaya insani . Disitu terdapat road map pengembangan SDM lengkap dengan proses dan program yang terarah dan berkelanjutan serta output dan outcomenya. Dengan demikian perusahaan akan mampu meningkatkan daya saingnya tidak saja dalam pasar domestik namun juga pasar global.

“SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1 MUHARAM 1432 H”