Kehidupan di alam yang diciptakan Allah ini dan terus berlangsung pada dasarnya karena adanya prinsip keseimbangan. Contoh yang paling nyata yaitu adanya peristiwa siang dan malam kemudian adanya kehidupan dunia dan akhirat; dan keseimbangan dalam kekhusuan shalat. Sholat yang dimulai dari takbirotul ikrom sampai salam berisi gerakan-gerakan yang berkelanjutan dari berdiri, ruku’, sujud, duduk serta gerakan tangan, disyaratkan untuk menjaga khusyu’ pada semua gerakan penuh keseimbangan. Ketika keseimbangan itu goyah atau bahkan hilang, maka kehidupan pun mulai bergeser dan sedang menuju sebuah kehancuran. Bagaimana dengan keseimbangan kehidupan dalam suatu keluarga?

        Seperti diketahui, keluarga adalah sistem sosial terkecil di masyarakat. Antaranggota berinteraksi membangun suatu keluarga harmonis melalui perilaku saling menghormati satu dengan lainnya. Untuk mencegah terjadinya ketidak-harmonisan, khususnya dalam keluarga, maka tiap individu dianjurkan untuk mengelola enerji positif yang dimilikinya menuju keseimbangan hidup yang diridhai Allah.

        Apabila individu sudah mampu menjaga keseimbangan enerji positif dalam dirinya, dia akan menjadi pribadi yang kokoh tak tergoncangkan oleh badai kehidupan apa pun. Dan dia juga akan menjadi pribadi handal yang tak gampang untuk terpengaruh oleh celaan dan pujian semu. Hidupnya menjadi kuat dan bermakna oleh enerji positif yang memberinya segala kebahagiaan hidup. Yakni antara keseimbangan beragam enerji yakni enerji keimanan, dan berbagi cinta kasih sayang, kebajikan, dan kebahagiaan. Itulah makna keseimbangan sejati.