Pernahkah anda merindukan seorang mantan pemimpin anda? Mengapa demikian merindukannya? Sampai-sampai kebaikan perilaku sang mantan selalu menjadi bahan omongan sesama mitra kerja anda. Bahkan kalau bertemu dengan sang mantan secara spontan anda mencium tangannya. Sebagai tanda hormat. Dan beliau secara spontan pula menyambut anda dengan tegur-sapanya yang hangat. Serta tidak jarang pula anda meneteskan air mata ketika rame-rame bertemu kembali dengan sang mantan pemimpin. Mengingat-ingat masa puluhan tahun lalu ketika beliau selalu menanamkan kedisiplinan dan mutu kerja. Walau terkadang dengan berbicara keras dan tegas namun tanpa disertai rasa dendam dengan karyawannya.

        Karena anda sadari semua itu dalam proses pembelajaran dalam membangun karakter sumberdaya manusia karyawan. Sehingga sebagian besar karyawan telah mampu meningkatkan ketrampilan dan sikap dan menduduki jabatan tertentu. Sementara sang pemimpin begitu ringan tangannya memenuhi kekurangan kebutuhan finansial dan non-finansial karyawan dan keluarganya. Tanpa pamrih. Karena sang mantan selama sepuluh tahun memimpin telah berhasil menanamkan investasinya bagi pengembangan anakbuahnya.

        Hal yang sangat menjadi ingatan di kepala dan kerinduan di hati para mantan karyawannya karena kepribadian sang mantan pemimpin yang begitu elegan mengesankan. Hampir-hampir tak ada cacat yang dimilikinya. Suasana kerja selalu dibangun dalam format kemitraan. Ditanamkan saling berbagi, bekerjasama, dan berempati. Suasana kekeluargaan pun ditempatkan pada posisi strategis untuk membangun hubungan social yang harmonis. Pokoknya ketika sang pemimpin lengser maka tak ayal lagi hujan air mata dari para karyawan pun tak bisa terbendung. Rasa sedih bercampur rasa kehilangan sosok yang dikaguminya. Dan tentu disitu terjadi tumbuhnya saling merindukan sesama.

Iklan