Secara filosofis pengertian produktif adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dan seterusnya hari demi hari. Bagaimana kalau tak tercapai? Kalau hari ini sama saja dengan hari kemarin maka kita dikatakan sebagai orang yang merugi. Sementara kalau hari ini lebih buruk dibanding kemarin maka kita tergolong orang yang celaka.

Dalam prakteknya produktif tidaknya seorang karyawan diukur dari proses melaksanakan pekerjaan dan outputnya. Kalau dalam proses banyak melakukan penyimpangan dari prosedur standar operasi maka akibatnya akan menghasilkan output atau kinerja yang di bawah standar perusahaan. Pada gilirannya kondisi seperti itu akan menggangu jalannya proses bisnis dan dapat mengurangi kinerja perusahaan. Mengapa ada orang atau karyawan yang tidak produktif dilihat dari unsur intrinsik kepribadian yang bersangkutan?

Unsur-unsur yang membuat seseorang tidak produktif dilihat dari kepribadiannya meliputi sifat malas, merasa serba  tahu segalanya, kurang mampu bekerjasama, tingkat pengetahuan yang rendah, kurang disiplin, dan berkomitmen kerja yang rendah. Berdasarkan hal-hal tersebut maka yang pertama perlu dilakukan karyawan yang bersangkutan adalah mengetahui dan memahami mengapa memiliki sfat-sifat negatif tersebut. ada. Juga penting dipahami bahwa perilaku itu akan merugikan diri sendiri dalam jangka panjang. Hal ini penting agar karyawan tadi lebih mengetahui kapan,dimana,dan dalam hal apa dia tidak produktif.

Hal  kedua yang perlu dilakukan adalah membuat rencana perubahan untuk hijrah dari perilaku tidak produktif ke sisi produktif. Perencanaan ini meliputi aspek perilaku apa yang akan diubah, siapa yang akan dilibatkan, bagaimana metode perubahannya, kapan perubahan itu dilaksanakan, dan bagaimana mengorganisasikannya apakah hanya oleh karyawan itu sendiri atau terintegrasi sebagai program organisasi.

Selain dua pendekatan di atas maka hal ketiga yang hendaknya dilakukan adalah karyawan memersiapkan diri untuk mengubah perilakunya. Dengan kata lain sudah dirancang dalam bentuk kegiatan nyata. Disini faktor-faktor niat kuat, kesungguhan dan komitmen akan memengaruhi keberhasilan proses perubahan. Selain itu dukungan manajer dan pihak manajemen menengah lainnya akan memercepat proses perubahan. Dalam prakteknya perlu ditetapkan tentatif target waktu dan derajat perubahan yang dicapai. Lalu dilakukan proses pemantauan dan evaluasi secara berkala dan di akhir semester. Hasilnya dipakai sebagai umpan balik dalam memperbaiki program.

Secara khusus keberhasilan proses perubahan dimaksud akan lebih cepat berhasil jika dipenuhinya beberapa faktor yang terdiri dari (1) ada tekad kuat karyawan bersangkutan dan tak khawatir gagal; (2) meminta dukungan dari mitra kerja di unit mereka tempat bekerja dalam rangka membangun kepercayaan diri dan pengakuan sosial di lingkungan kerjanya; (3) dukungan dari manajemen puncak dan komitmennya di rumuskan sebagai program perusahaan; dan (4) perusahaan tetap membuka peluang karir bagi mereka yang berhasil mengubah perilakunya menjadi semakin poduktif.