September 2010


 

Ada beberapa yang bakal terjadi pada pascalebaran berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu. Yang sudah jelas adalah:

· Kepadatan arus lalulintas menjelang hari sabtu minggu depan; semoga kecelakaan semakin berkurang

· Jumlah penduduk kota-kota besar akan bertambah seiiring dengan makin banyaknya pencari kerja khususnya untuk pekerjaan asisten rumahtangga

· Libur lebaran untuk sebagian PNS diperkirakan semakin panjang

· Ada kunjungan mendadak oleh pimpinan unit kerja bahkan menteri untuk mengamati apakah pegawainya masih libur atau sudah masuk kerja

· Harga-harga sembako secara teoretis seharusnya menurun karena permintaan bakal menurun;namun dalam kenyataannya untuk sebagian komoditi tidaklah seperti itu

Itulah uraian singkat tentang dugaan fenomena sosial yang akan terjadi pascalebaran. Selamat menikmati silaturahmi lebaran.

 

        Insya Allah esok lusa lebaran tiba. Umat Islam sedunia menggolongkannya sebagai hari kemenangan. Setelah selama 29 hari penuh umat Islam yang berpuasa dinilai telah berhasil melawan hawa nafsu di bulan suci ramadhan. Hari-hari sebagai pelatihan akbar yang di dalamnya tak sedikit larangan untuk dilaksanakan di siang hari sekalipun itu termasuk halal di hari-hari biasa. Tarawih dan tadarusan dilakukan umat sebagai bagian dari ritual pengisian bulan suci itu.

        Ketika lebaran tiba maka kaum muslimin berbondong-bondong ke mesjid atau tempat lain untuk melakukan sholat sunnah idul fitri. Kalimat-kalimat takbir dan tahmid bergema sedemikan sahdunya. Setelah sholat selesai mereka khususnya kalangan keluarga dan kerabat sanak saudara saling bersalaman disertai dengan ucapan maaf-memaafkan dan doa mendoakan. Mendoakan agar hari kemenangan yang dicapai dapat diujudkan dalam bentuk perubahan perilaku yang semakin baik dalam 11 bulan kedepan.

        Silaturahmi yang dilakukan seseorang mengandung arti terjalinnya saling mengasihi satu sama lain. Dipercaya bahwa dengan silaturahmi, paling tidak ada dua hal yang ingin diraih. Pertama adalah konon dengan semakin tingginya intensitas bersilaturahmi maka usia kita semakin panjang. Namun bukan  dalam konteks usia biologis. Karena faktor usia merupakan otoritas sang pencipta yakni Allah. Yang dimaksudkan disini adalah nama baik mereka yang rajin bersilaturahmi selalu dikenang sepanjang masa sekalipun yang bersangkutan telah meninggal dunia. Makna nilai sitarurahmi yang kedua adalah berkah bertambahnya rezeki. Dengan silaturahmi seseorang akan semakin terbuka kesempatannya untuk menjalin usaha-usaha yang berkait dengan promosi nama baik, karir dan pendapatan seseorang. Dalam hal ini maka silaturahmi dalam dunia kerja menjadi sangat penting.

        Ketika beberapa orang melaksanakan pekerjaannya di organisasi apapun pasti tidak akan lepas untuk saling berhubungan satu sama lainnya. Baik dalam konteks vertikal dengan atasan maupun horisontal dengan sesasama rekan kerjanya. Baik dilakukan formal maupun informal. Secara formal, disitu ada proses manajemen kineja  mulai dari yang sifatnya pemberian instruksi kerja, koordinasi, umpan balik, sampai evaluasi pelaksanaan dan hasil kerja dalam suasana silaturahmi. Dengan berbagi, tiap individu di unit kerja organisasi menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang dihadapi, sesungguhnya yang bersangkutan tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Insya Allah spirit hidup pun tumbuh kembali. Sementara selain formal, secara informal siltarurahmi diujudkan dengan kegiatan-kegiatan sosial internal organisasi. bentuknya berupa acara seni, olahraga, dan wisata bersama di suatu tempat. Maksudnya agar terjadi penyegaran lahir dan  bathin, dan terjalinnya suasana keakrabatan penuh dengan jiwa kekeluargaan tanpa ikatan hirarki jabatan yang ketat.

       Dengan demikian pendekatan manajemen kinerja formal dan informal berbasis silaturahmi ini, mendorong setiap individu untuk bekerja semakin produktif lagi. Tentunya dalam kerangka kepentingannya masing-masing dan kepentingan organisasi. Setiap individu sesuai dengan posisinya melakukan evaluasi kinerjanya. Hasil evaluasinya digunakan sebagai dasar untuk  meningkatkan potensi dirinya. Semuanya dilakukan dalam kerangka menjaga dan bahkan meningkatkan kinerja baik individu maupun kinerja organisasi. Semakin tinggi intensitas dan mutu koordinasi kerja atau silaturahmi kerja maka semakin tinggi pula kinerja yang dicapainya. Sejauh mungkin, dengan silaturahmi, konflik kerja dapat dihindari. Daya saing usaha organisasi pada gilirannya juga akan semakin meningkat. Tentunya semua itu akan sangat bergantung pada niat dan kebijakan dari manajemen puncak.

 

        Kartu lebaran beberapa tahun lalu, sebelum kehadiran telepon seluler (ponsel), menjadi primadona untuk menyampaikan selamat idul fitri. Setelah ponsel hadir di tengah-tengah masyarakat maka pola pengiriman ucapan selamat itu berubah drastis. Kartu secara bertahap sudah digantikan dengan pesan singkat (sms) lewat ponsel. Praktis dan murah. Sementara kalau pakai kartu bukan saja harganya lebih mahal namun juga proses pengirimannya makan waktu relatif lebih lama. Dengan demikian dari tahun ke tahun warga yang menggunakan kartu lebaran semakin menurun.

        Sekalipun sudah ada ponsel, rupanya untuk beberapa kolega profesi atau kenalan masih ada yang setia mengirimkan kartu lebaran kepada saya. Sementara saya agak malas menggunakan kartu. Karena itu model balasannya menggunakan cara pengiriman sms dengan ponsel. Dan anehnya campur lucu sang teman pun kembali membalasnya lewat ponsel. Jadinya saya mendapat dua kali ucapan selamat lebaran. Yang satu dengan kartu dan lainnya menggunakan ponsel.

        Pengembangan teknologi telekomunikasi memang sudah begitu revolusionernya. Jangkauannya sudah merambah ke setiap dimensi kehidupan lapisan sosial ekonomi. Penarik beca dan tukang sayur serta pengemis pun tak mau kalah. Mereka sudah banyak yang memiliki ponsel. Sementara itu selain ponsel sekarang banyak sekali yang menggunakan jalur internet termasuk facebook. Walaupun lingkup sasarannya terbatas pada pertemanan sekitar facebook namun cara itu sangatlah efisien. Gratis dan pragmatis,walau isi pesan status bisa dibaca orang lain. Lagi-lagi dengan adanya jalur untuk penyampaian selamat lebaran yang semakin bervariasi maka posisi kartu lebaran semakin terdesak saja. Bisa dibayangkan berapa penurunan pendapatan yang diterima PT Pos Indonesia dan industri kartu lebaran. Itulah konsekuensi dari transformasi sosial akibat pengaruh teknologi baru.

 

       Siapapun pernah berkomunikasi. Baik dalam konteks pertemanan biasa maupun dalam suatu pertemuan formal misalnya dalam rapat kerja organisasi. Ketika membahas suatu topik ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Komunikasi berjalan lancar, tersendat-sendat, dan bubar begitu saja. Kalau lancar maka disitu tak ada perbedaan pendapat yang mendasar. Akhir komunikasi biasanya diujudkan dengan rasa puas. Sementara kalau tersendat-sendat,diskusi berjalan begitu “ramainya”. Mulanya perbedaan yang terjadi begitu tajamnya. Namun ketika terjadi saling mengutarakan beragam alasan maka lama kelamaan menjadi cair. Ketika itu terjadi saling memahami argumen masing-masing pembicara. Kalau berjalan semakin lancar maka keputusan bulat pun bisa diambil.

       Bagaimana kalau tidak terjadi kesepakatan bulat? Biasanya dilakukan rehat dahulu. Maksudnya untuk mengendapkan emosi yang ketika rapat berlangsung. Juga ketika rehat dilakukan loby dilakukan diantara yang berbeda pendapat. Diharapkan ketika kembali masuk dalam ruang sidang, proses diskusi akan berjalan lebih rasional. Itu adalah idealnya. Bisa jadi sampai waktu yang sudah ditentukan kesepakatan bisa saja tidak terujud. Karena itu peserta rapat atau diskusi perlu mencari jalan keluarnya. Salah satu jalan keluarnya adalah dalam bentuk kesepakatan untuk tidak bersepakat. Apa maksudnya?

        Bentuk model kesepakatan untuk tak bersepakat dirumuskan agar catatan-catatan perbedaan dan persamaan pendapat masih dapat berguna. Artinya dalam dokumen itu berisi hal-hal penting untuk dibahas dalam kesempatan rapat berikutnya. Selama menjelang rapat berikutnya maka loby-loby intensif pun dilakukan. Hal ini penting agar supaya perbedaan yang ada dapat diperkecil. Untuk itu kalau dianggap perlu diundang beberapa akhli danorang yang berpengalaman untuk memberi masukan. Dalam keadaan seperti itu dianjurkan agar masing-masing pihak untuk membangun saling pepahaman atas pendapat orang lain. Juga disepakati agar emosi berlebihan dapat dihindari. Sebab kalau tidak akan merusak hubungan antarindividu dan tataran berorgansasi. Penting pula dilakukan kompromi dalam bentuk mengalah terhadap pendirian yang teguh dari seseorang yang lebih berkepentingan. Sekaligus juga dapat dibangun kemufakatan dan tanggung jawab untuk secara konsekuen dan konsisten melaksanakan keputusan akhir.

 

          Mudik bareng berbagai kelompok masyarakat dari Jakarta semakin marak saja. Kalau sebelumnya diketahui ada kelompok penjual jamu gendong yang disponsori  oleh perusahaan jamu terkenal (gratis), kini sudah melebar ke kelompok profesi lainnya. Sekarang ada kelompok penjual mie rebus dan mie tek-tek dan kuli bangunan. Ada juga yang berasal dari daerah yang sama. Mereka semua menggunakan bis sewaan. Bergembira ria menuju kampung halaman.

          Kemudian ada kelompok pengendara motor yang menggunakan jalur utara dan selatan yang dikawal oleh polisi sampai batas kota. Dalam satu motor ada yang ditumpangi sampai empat orang (anak dan isteri). Bahaya memang. Secara pribadi, saya sangat tidak menganjurkan. Tetapi apa boleh buat.  Sepertinya tidak banyak pilihan.Terpenting semua dalam suasana gembira. Yang pokok selamat  sampai di kampung halaman. Tujuannya cuma satu; mudik lebaran untuk   bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat tercinta.

          Terkadang saya suka ngiri melihat mereka. Ingin rasanya naik bis dan kereta berdesak-desakan. Atau naik mobil macet berkilo-kilo meter. Sepertinya nikmat, lupa akan kelelahan. Saya yang dibesarkan di Jakarta sejak usia empat tahun memang pernah mudik. Kalau tidak ke Kuningan (tempat kelahiran ema) ya ke Cilegon (tempat kelahiran abah) buat silaturahim dengan kakek-nenek,uwa dan mamang serta sanak saudara lainnya.

         Rasanya berkesan sekali naik kereta atau bis berdesakan. Tetapi sudah lebih dari lima dekade tidak pernah mudik lebaran karena orangtua tinggal di Jakarta. Sementara sanak saudara di daerah sudah banyak yang bermukim di Jakarta.  Tampaknya mudik sudah menjadi tradisi kuat dan ritual sosial. Subhanallah…betapa nikmat dan indahnya ikatan batin mereka. Itulah harta mulia.

          Hati-hati di jalan ya Mas dan Mbak. Jangan lupa berdoa dan hindari kebut-kebutan. Semoga sekeluarga tiba selamat di tempat tujuan. Bertemu keluarga-kerabat tercinta. Amiiin.

« Laman Sebelumnya