Setiap karyawan, pada posisi apapun, pasti memiliki gagasan tertentu. Ada yang sederhana dan ada yang brilian. Ada yang tersembunyi dan ada yang terbuka. Gagasan bisa hadir secara alami atau sebagai buah dari proses pembelajaran. Dalam perspektif perusahaan, itu berarti harus dipandang sebagai suatu sumberdaya. Kalau perusahaan jeli maka sumberdaya tersebut seharusnya bisa menjadi aset perusahaan. Tinggal masalahnya adalah bagaimana cara mengoptimumkannya agar tidak hilang percuma. Disini pemimpin perusahaan harus membuat suatu program pengembangan gagasan bagi para karyawannya secara bersinambung. Bagaimana sebaiknya?

         Tahap awal adalah mengidentifikasi potensi karyawan. Sejak proses rekrutmen dilakukan maka sebaiknya perusahaan sudah dapat mengidentifikasi tingkat pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan integritas kepribadian karyawannya. Dengan cara tes dan wawancara,dapat diketahui seberapa besar setiap karyawan memiliki potensi gagasan. Baik yang menyangkut gagasan produksi, pengolahan hasil, pemasaran, manajemen administrasi, manajemen keuangan, manajemen informasi maupun manajemen personalia.

         Tahap berikutnya adalah pelatihan dan pengembangan kepada setiap karyawan. Polanya lebih berorientasi pada proses pengambilan keputusan. Karena itu para karyawan dilatih bagaimana mengidentifikasi dan menganalisis masalah. Pendekatan pembelajaran yang terpusat pada peserta belajar (karyawan) sangat dianjurkan. Dengan kata lain karyawan dikondisikan untuk berpartisipasi aktif dalam pelatihan. Orisentasi lainnya adalah pelatihan seharusnya berbasis kompetensi. Artinya sesuai dengan kompetensi perusahaan dan bidang pekerjaan para karyawan. Penerapan hasil pelatihan dalam bentuk umpan balik bagi kelancaran pekerjaan lalu diamati secara intensif. Termasuk apa saja gagasan-gagasan yang muncul selama mereka berlatih dan bekerja. Disini karyawan dilibatkan dalam menentukan pilihan-pilihan kegiatan yang layak diterapkan perusahaan.

          Dalam tahap pelibatan karyawan agar trampil dalam menentukan pilihan, posisi manajer menjadi sangat strategis. Manajer melibatkan karyawannya untuk melakukan sumbang saran dalam menggunakan pendekatan dan pendefinisian masalah-masalah perusahaan. Ketika karyawan sudah dianggap mampu maka berikutnya dilatih dalam bagaimana membuat pendekatan pengambilan keputusan dari beragam pilihan kegiatan yang ada. Untuk itu disajikan (adaptasi dari Dave Ulrich dan Norm Smallwood, 2003, How leaders build values), beberapa cara agar karyawan mampu meningkatkan kemampuannya dalam membuat pilihan terbaik.