Kata ”ego” berasal dari bahasa latin. Terjemahan bebasnya adalah ”aku,diriku”.Ego merupakan milik tiap orang. Dia hadir setiap waktu dan dimana pun kita berada. Konon penelitian menunjukkan, sebanyak delapan persen dari waktu yang dilalui cenderung diisi dengan kata-kata dan perilaku yang bermakna “ego”. Antara lain adalah tentang percaya diri, harga diri, keterbukaan, ambisi, luwes, optimistik, cerdas, loyal, ngotot, keras kepala, dsb. Dalam prakteknya, kata “ego” hampir selalu diasosiasikan kedalam hal yang negatif. Misalnya itu ditunjukkan  dalam pertemuan tim kerja, telaahan kinerja, percakapan antarklien, negosiasi kontrak bisnis, wawancara calon karyawan baru, dsb.

        Kalau sifat “ego” berciri negatif maka hasil dari  proses yang dicontohkan di atas akan mengalami kegagalan. Karena itu kalau dikaitkan dengan perilaku bisnis maka “ego” sama saja berarti sebagai penyebab kerugian perusahaan. Sebaliknya kalau ego itu bisa dikelola dengan bijak maka akan mendatangkan keuntungan perusahaan.Misalnya rasa harga diri berlebihan yang dikelola menjadi sifat rendah hati akan lebih menguntungkan ketimbang menjadi sombong hati.

        Roy Baumeister dari University of Florida dan Liqing Zhang dari University of Carnegie Mellon dalam Marcum dan Smith (2008), telah melakukan serangkaian eksperimen untuk mengungkapkan keputusan finansial apa yang bakal terjadi ketika ego para pengambilan keputusan sebagai ancaman. Dalam eksperimen ini, peneliti membagi dua kelompok orang ke dalam dua jenis yakni kelompok ”ego-ancaman” dan kelompok ”ego bukan ancaman”. Kemudian  dilakukan eksperimen yang berkaitan dengan perlakuan simulasi pemberian modal dan hubungannya dengan keuntungan kelompok. Apakah yang terjadi dalam bentuk untung, rugi, atau capaian titik impas.

        Hasil eksperimen menunjukkan bahwa semakin tinggi harga diri kelompok ”ego-ancaman”, semakin banyak kerugian yang diderita. Kelompok ini merasa bahwa uang yang relatif begitu banyak yang diinvestasikan untuk meraih keuntungan ternyata menjadikan dirinya tidak nyaman khususnya terhadap harga dirinya. Dengan kata lain mereka rugi dan sekaligus kurang percaya diri. Kelompok dengan ciri ”ego-ancaman” cenderung selalu gagal dalam pengambilan keputusan tentang pembiayaan. Penyebabnya adalah mereka terjebak dalam suasana emosional, marah-marah, dan sulit berkompromi satu sama lainnya. Sebaliknya kelompok dengan ciri ”ego-bukan ancaman” cenderung akan selalu berhasil. Mereka cenderung berpikir hati-hati dan tenang dalam pengambilan keputusan. Pada gilirannya kinerja mereka bakal berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.