Bangsa dan budaya seringkali dikaitkan dengan kembanggaan diri masyarakatnya. Ada naluri mode yang dimilikinya. Bahkan  dapat menyombongkan gaya individunya. Namun jangan heran keragaman  busana akan memunculkan beragam persepsi. Misalnya busana yang umum dipakai di negara tertentu bisa dianggap  terlalu santai. Sementara  bangsa lain justru menilainya tidak pada tempatnya bahkan tidak sopan. Contoh lain, kini sudah diterima umum bahwa pakaian berdasi merupakan ciri busana formal dan universal. Tetapi coba kita datang ke Singapura. Tahun lalu ketika saya berkunjung ke suatu lembaga riset di negeri singa itu, para peneliti  berpakain baju putih tangan pendek tanpa dasi apalagi jas. Walaupun ketika itu sedang menerima tamu asing. Rombongan Indonesia sendiri yang saya pimpin berjas dan berdasi ria.

       Begitu pula di Amerika Serikat. Pelayan memakai tuksedo sementara para akhli teknologi atau peneliti di Lembah Silikon cuma memakai celana pendek dan kaus kalau ke kantor.Juga  wanita pramuniaga di sebuah toko berbusana begitu bagusnya sedangkan eksekutif wanita penanggung jawab manajemen toko itu tidak se-wah pegawainya. Di  tempat bisnis lainnya (non-riset), umumnya pria eksekutif berpakaian konservatif dan dasi; begitu pula kaum wanitanya mengenakan rok konsevatif atau pakaian eksekutif stelan jas. Bagaimana dengan busana bisnis di Eropa?

       Di Perancis tampaknya ada hubungan erat antara pusat mode dunia dengan tampilan busana para eksekutifnya. Ciri-ciri busananya  disesuaikan dengan pekerjaan, bahannya mahal, asli,harmoni, dan tentu saja gayanya berselera tinggi. Begitu pula kaum perempuannya. Para wanita pengusaha umumnya bersepatu dengan hak tinggi. Bicara tentang sepatu, di Rusia sepatu merupakan simbol status. Jadi jangan kaget kalau berjumpa dengan eksekutif Rusia,sepatu kita sekilas akan diperhatikannya. Konon di masa-masa susah doeloe, bangsa Rusia pernah kekurangan persediaan sepatu. Kalau toh ada tetapi kualitasnya buruk. Sementara itu kalau berpakaian, khususnya para wanitanya, menggunakan busana warna terang benderang. Tampaknya kurang berselera. Mengingatkan saya pada pakain pesta penduduk di perdesan Jawa Barat tempo doeloe. Bagaimana dengan di Asia?

       Di Jepang, prianya selalu berpakaian konservatif (jas dan berdasi) dan berharga tinggi. Mereka sangat peduli dengan mode bermutu tinggi. Tidak jarang jahitannya dilakukan dengan manual tangan plus asesori mahal. Tetapi konon membosankan. Sementara kaum wanita eksekutif berpakaian rok dengan warna netral atau tak mencolok. Di India lain lagi. Para eksekutif berpakaiaian di atas  konservatif yang tampaknya ingin meniru gaya penjajahnya, Inggris. Namun hati-hati kalau bertemu dengan mereka. Dianjurkan untuk tidak menggunakan pakain jaket dan aseori yang berbahan kulit sapi. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap menghina mereka karena sapi dianggap sebagai khewan suci. Lalu di Indonesia seperti apa?

         Seperti halnya di belahan dunia lainnya, para pria eksekutif Indonesia umumnya mengenakan pakaian berdasi. Kalau ada acara-acara seremonial, mereka pada umumnya berjas dan berdasi. Begitu pula wanitanya berpakaian eksekutif mirip jas. Nah, walau tampaknya bersifat konvensi, pakaian pria sangat bergantung pada pakaian atasannya. Para eksekutif akan gerah atau sungkan kalau sang atasan hanya memakai baju berdasi sementara mereka berjas dan berdasi ria. Seperti di Amerika, jarang sekali para peneliti dan dosen di Indonesia berbusana seperti eksekutif bisnis. Umumnya berpakaian tanpa dasi kecuali dalam acara-acara seremonial. Tetapi di sekolah-sekolah bisnis, hampir semua dosen berdasi. Saya sendiri sudah 17 tahun sebagai dosen manajemen dan bisnis tidak pernah berpakaian kemeja dengan dasi apa lagi jas. Rasanya gerah.

         Tampak dari uraian di atas bahwa lain bangsa lain busananya. Hal itu bisa terkait dengan sejarah bangsanya, perkembangan teknologi dan seni, dan pergaulan universal. Setiap eksekutif bisnis memang dianjurkan untuk memahami perilaku multi budaya. Jangan gara-gara kurang memperhatikan budaya khususnya tentang busana bangsa lain maka ”deal-deal” bisnis jadi gagal.Dan satu implikasi lagi bahwa kita tidak dapat menilai isi sebuah buku dari sampulnya. Dengan kata lain, kita memang tidak dapat segera dan utuh menilai isi hati seseorang dari baju yang dipakainya. 

Bahan bacaan : Charles Mitchel, 2000, Short Course In “International Business Culture”.World Trade Press,California,USA. dalam Tb.Sjafri Mangkuprawira.2007. Ronawajah.IPB Press