Setiap dari kita pasti pernah mengeluh. Ada keluhan yang diucapkan dan ada yang disimpan di dalam hati. Tetapi latar belakang penyebabnya sama saja. Perilaku seperti ini terjadi ketika sesuatu yang dihadapi, dialami, dan dimiliki dinilai di bawah standar atau ukuran diri bersangkutan dan atau standar umum. Mereka tidak merasa puas dengan yang dimilikinya, dengan tugas yang diterimanya, dan dengan ketidaknyaman hubungan sosial yang ada. Jadi ada respon terhadap unsur luar dan bahkan respon terhadap unsur di dalam diri yang bersangkutan. Misal dari unsur luar adalah respon negatif tentang besaran kompensasi, kepemimpinan manajemen, dan fasilitas kerja yang dihadapinya. Sementara unsur dari dalam antara lain adalah kekurangan fisik, mental, dan keegoan. Dari sudut waktu, mengeluh bisa dalam bentuk spontan atau seketika lalu hilang, bisa jangka pendek saja, dan jangka panjang. Semakin panjang dimensi waktu semakin parah kondisi mental yang bersangkutan. Artinya yang bersangkutan tidak mau dan mampu menghadapi kenyataan yang ada, kecenderungan malas, hubungan sosial yang rendah, dan potensial sebagai pemicu konflik. Lalu apa hubungannya dengan suasana kerja yang terjadi?

        Pada umumnya ciri-ciri pengeluh antara lain (1) egoistis dan egosentris; (2) cenderung menyalahkan lingkungan ketimbang kepada dirinya; (3 ) bersifat pesimistis; (4) selalu merasa tidak puas tentang hidup dan kehidupannya; dan (5) cenderung sering merengek pada rekan kerjanya, layaknya seorang anak kecil. Dengan kata lain para pengeluh khususnya yang kronis akan selalu menyalahkan dan bahkan memarahi pihak lain sebagai refleksi kekurang-puasannya. Para  rekan kerjanya hampir-hampir tidak dilihat sebelah mata. Dalam kondisi seperti itu potensial munculnya suatu konflik. Disamping itu setiap keahlian yang dimiliki para pengeluh tidak dapat dimanfaatkan secara optimum. Wajar demikian terjadi  karena waktu kerja pengeluh habis digunakan hanya untuk mengutarakan ketidakpuasan saja. Akibatnya setiap orang tidak respek terhadap mereka.

         Dalam kenyataannya, manajer tidaklah selalu mudah mengatasi mereka yang tergolong pengeluh. Sering dilematis, di satu sisi sang pengeluh sebenarnya seorang karyawan yang pandai dan trampil. Sementara di sisi lain sang pengeluh dapat mengganggu suasana kerja yang nyaman dan perlu ditindak. Karena itu manajer haruslah pandai-pandai menghadapinya dengan bijak. Artinya anggap saja manajer sedang menghadapi pelanggan dimana dia harus mendengarkan setiap keluhannya dengan serius. Beberapa jalan keluar yang dapat dilakukan antara lain, melakukan pendekatan personal. Manajer sebaiknya mau menunjukkan perhatian mendengarkan keluhan-keluhannya. Siapa tahu ada keluhan yang memang benar dan perlu ditangani oleh manajemen. Yang kedua adalah menempatkan sang pengeluh pada posisi pekerjaan dengan persyaratan yang hampir semuanya sesuai dengan yang dikehendaki sang pengeluh.

        Implikasi dari kondisi di atas maka perusahaan harus sudah  berhati-hati sejak dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawannya. Persyaratan akademis dari calon  karyawan semata-mata tidaklah cukup. Diperlukan syarat ketrampilan lunak atau soft skills. Kemudian dalam pelatihan dan pengembangan juga perlu diberikan materi dan metode pengembangan diri. Praktek-praktek berkomunikasi, bersosialisasi, dan dinamika kelompok menjadi hal yang sangat penting. Selain itu perhatian manajer kepada karyawan dalam bentuk keinginan untuk mendengar keluhan-keluhan karyawan sangatlah diharapkan. Dengan demikian sejak dini keluhan-keluhan itu dapat diatasi dengan efektif.