Konon persuasi (ajakan) jauh lebih kuat efeknya ketimbang paksaan seperti halnya dalam mitos jurnalis ‘pena lebih tajam ketimbang pedang’. Paksaan akan mengakibatkan keputusasaan karyawan karena dianggap diperlakukan tidak ada bedanya dengan khewan (dehumanisasi), tidak dipercaya, dan tidak dihargai akan kemampuan dirinya. Perusahaan akan rugi karena paksaan hanya akan membuahkan kontra produktif.

      Sebaliknya, dengan persuasi justru para karyawan akan merasa diajak untuk memahami persoalan yang dihadapi dirinya dan organisasi, diberi peluang untuk berpikir, berkreasi dan berprakarsa. Dengan demikian mereka merasa mendapat perlakuan secara manusiawi. Hasilnya akan semakin produktif walaupun tidak jarang membutuhkan waktu yang relatif panjang dan kesabaran tinggi.

       Dalam prakteknya apakah hal di atas akan sedemikian mudahnya berhasil? Belum tentu. Pasalnya karyawan memiliki ciri-ciri unik antara lain punya emosi, intuisi, dan dinamika kepribadian masing-masing. Disitu ada yang bersifat egoistis dan egosentris, malas (teori X), pembangkang, kolaboratif, dsb. Selain itu kepatuhan karyawan kepada manajer tidak satu-satunya dipengaruhi oleh faktor ajakan. Ada unsur motivasi lainnya seperti tingkat pendidikan dan pengalaman karyawan, manajemen kinerja, peluang karir, dan besaran kompensasi, dan kapabilitas kepemimpinan manajer termasuk dalam hal derajad kesabarannya.