Tidak dapat dipungkiri, ilmu metode kuantitatif dalam pengambilan keputusan di perusahaan sudah lebih dari lima dekade ini  diterapkan banyak perguruan tinggi  kepada para mahasiswanya. Hal ini semakin marak ketika sekolah-sekolah bisnis bermunculan. Tidak terkecuali di Indonesia. Sudah semacam “school of thought” di kalangan skolar Amerika Serikat bahwa pendekatan kuantitatif adalah cara yang paling diandalkan atau ter-rasional dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Dengan demikian setiap manajer yang lulusan sekolah bisnis akan mampu mengelola apa pun tentang bisnis dengan sukses. Benarkah seperti itu? Berikut  disarikan  pendapat Thomas J.Peters dan Robert H.W Jr seperti diuraikan dalam bukunya (edisi revisi) berjudul “In Search of Excellence” (terjemahan, Karisma,2007).

     Pendekatan yang mengandalkan metode kuantitatif semata ternyata tidak mengajarkan untuk memahami perilaku pelanggan. Juga pendekatan kuantitatif tidak mengajarkan para CEO dan manajer tentang betapa pentingnya menjadikan karyawan sebagai pemeran penting. Juga pendekatan ini tidak memberikan pemahaman bahwa pengendalian mutu karyawan diri sendiri jauh lebih efektif daripada pengendalian mutu oleh penyelia. Bahkan pendekatan ini tidak menciptakan manajer yang mampu membangun makna bagi manusia dan uang.

     Selain itu analisis masalah hanya dengan pendekatan kuantitatif ternyata banyak yang salah arah, dan terlalu kompleks sehingga tidak banyak berguna dan terlalu sulit untuk dioperasionalkan, demikian tambahan Thomas dan Robert. Bahkan pendekatan itu dianggap rasional, logis, masuk akal, dalam berkesimpulan yang benar. Namun pada kenyataannya hal itu sering mengabaikan kompleksitas manusia. Suatu strategi yang tidak mempertimbangkan hambatan-hambatan implementasi dan ketidak-taatasasan manusia.

     Namun demikian bukan berarti kedua penulis itu meremehkan arti pendekatan kuantitatif bagi perumusan strategi perusahaan. Perencanaan produksi (prakiraan) di tingkat kebun agribisnis, misalnya, sering terbukti memberikan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Tentunya dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan. Begitu pula proyeksi produksi di tingkat manufaktur. Ini membuktikan pula bahwa ketersediaan data akurat dan analisisnya  menjadi syarat keharusan bagi perusahaan yang menginginkan keunggulan bersaing. Perusahaan yang tidak berbasis data dan informasi tentang kondisi pelanggan, pasar, dan pesaingnya bakal tertinggal jauh oleh perusahaan yang memiliki sistem informasi manajemen yang canggih.

      Yang menjadi sorotan tentang kelemahan pendekatan kuantitatif adalah penggunaan asumsi-asumsi. Sering, asumsi yang digunakan tidak dimasukkan ke dalam model kuantitatif. Padahal asumsi itu sebenarnya merupakan fakta nyata yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Begitu pula sering diabaikannya unsur perilaku karyawan sebagai manusia yang memiliki keunikan dalam hal-hal emosi, intuisi, kepribadian aktif, dan permasalahan masing-masing.