Pentingnya kepedulian pihak perusahaan terhadap karyawan atau manajemen sumberdaya manusia (MSDM) selalu menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Alasannya karena karyawan merupakan pelaku utama produksi dan pemasaran hasil. Tak mungkin strategi bisnis akan tercapai kalau tidak ada pelakunya. Karena itu selama karyawan bekerja mereka ditempatkan pada posisi penting sebagai aset perusahaan. Dalam hal ini yang diperhatikan oleh pihak manajemen adalah bagaimana caranya agar produktivitas kerja mereka dapat ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan pengembangan sumberdaya manusia. Bentuknya bisa melalui pendidikan dan pelatihan. Kalau produktivitas kerja semakin tinggi maka kinerja perusahaan akan meningkat. Akibatnya  kompensasi yang  bakal diterima karyawan pun akan bertambah. Dengan harapan, karyawan dan keluarganya mampu meningkatkan kesejahteraannya.

        Pertanyaannya apakah perhatian pihak manajemen cuma sebatas pada sisi nilai output saja? Di sisi lain apakah pihak manajemen tidak menyimak adanya karyawan yang  jenjang karirnya sudah mentok,  harapan harkat manusiawi yang menurun ketika karyawan berhenti bekerja, kehidupan keluarga yang terhenti setelah karyawan pensiun, dan terjadinya fenomena stres dan depresi kerja? Beberapa pertanyaan itu penting dijawab ketika perusahaan hanya menitik beratkan pada program yang relatif jangka pendek  yakni peningkatan produksi dan menurunkan biaya produksi dan demi kepuasan karyawan yang sifatnya sementara saja.

        Jangan sampai demi keunggulan kompetitif, perusahaan mendorong peningkatan produksi berikut dengan mengurangi  biaya tenaga kerja. Sementara di sisi lain unsur manusiawi karyawan nyaris diabaikan. Kalau ini dibiarkan maka dapat menjadi titik masalah kemanusiaan yang bakal semakin besar. Hal ini terjadi karena strategi yang diterapkan lebih pada efisiensi ekonomi ketimbang efisiensi sosial (motivasi, imbalan psikologis, kebutuhan mental yang nyaman, dsb). Padahal idealnya dua sisi efisiensi itu seharusnya seimbang. Kalau strategi terdahulu terus berkelanjutan, perusahaan berarti tak akan cukup bergairah untuk meningkatkan produktifitas dan biaya produksi yang rendah. Selain   itu perusahaan bakal tidak cukup cerdas atau memiliki kepekaan tinggi dalam mengelola karyawan yang karakaternya begitu beragam dalam menciptakan kepuasan terbaik bagi para karyawannya. Pada gilirannya kalau dua hal itu tidak terpecahkan akan mengakibatkan kesehatan mental kerja karyawan menurun.

         Untuk melindungi posisi karyawan dari pengabaian unsur manusiawi oleh pihak manajemen maka pendekatan yang dianggap terbaik adalah melalui penerapan model perilaku organisasi. Di dalam perilaku organisasi perhatian pokok adalah pada model kepemimpinan dan perilaku karyawan berikut unsur-unsur yang mempengaruhinya. Untuk itu perhatian sentral harus dipusatkan pada kegiatan mengelola keragaman dan stres karyawan secara optimum. Penerapan suasana kemitraan kerja antara manajemen dan karyawan, kepemimpinan yang nyaman, pemotivasian, dan pelatihan dapat diterapkan untuk meningkatkan mental kerja karyawan. Selain itu aspek-aspek membangun hubungan kerja (formal dan informal), pengembangan ketrampilan lunak (soft skills) manajemen dan karyawan, dan manjemen perubahan internal khususnya yang menyangkut imbalan non-finansial perlu lebih diperhatikan. Semua itu seharusnya tercermin dari strategi bisnis dan strategi SDM perusahaan yang berorientasi jangka panjang.