Rajin pangkal pandai? Makin rajin belajar makin berpeluang menjadi pandai. Apakah masih ada jenis rajin lainnya? Jenisnya bisa  rajin beribadah, rajin bekerja, rajin membaca, rajin membantu orang lain, rajin bersilaturahmi, dan banyak rajin lainnya yang positif. Mengapa seseorang mau rajin? Yang jelas karena orang itu punya ekspektasi. Lalu muncullah motivasi untuk meraih kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri. Lalu motivasi sebagai stimulus dapat mendorong orang tersebut untuk mendapatkan kepuasan tertentu baik untuk dirinya maupun orang lain. Dasarnya apa?

        Idealnya semua itu  berdasarkan keikhlasan karena ingin meraih ridha Allah. Namun dalam kenyataannya bisa saja rajin sekedar untuk memuaskan atasannya. Kalau atasan sedang tak ada maka penyakit lamanya berupa malas akan kembali muncul. Artinya di balik sisi positif dari rajin, kita harus hati-hati. Ternyata  rajin bisa juga  bernuansa negatif. Rajin disini dapat digolongkan juga sebagai kadar sering sampai sangat sering berbuat tak wajar. Apa itu? Misalnya, rajin bergosip ria (obrolan tentang sisi negatif orang lain), rajin berfitnah, rajin pamer diri,  rajin cari muka, dan rajin menyakiti orang lain.

        Untuk apa semua bentuk rajin seperti itu? Bisa jadi untuk memuaskan diri namun hakekatnya bersifat semu. Bisa dibayangkan berperilaku rajin  (negatif) tetapi  membuat orang lain menjadi menderita. Bisa dibayangkan pula gembira meraih posisi atau jabatan tertentu namun dengan cara rajin menjilat atasan. Intinya rajin seperti ini akan membahagiakan si pelakunya tetapi dengan membuat orang lain serba susah.

Iklan