Hari ini tepat pukul 00.00 wib, Alhamdulillah usia saya genap 67 tahun. Dalam seusia itu saya patut bersyukur ke hadirat Allah swt. Selama ini saya memperoleh banyak nikmah kebahagiaan tak ternilai dengan usia relatif ‘panjang’ dari-Nya. Memang umur biologis saya sudah tergolong tua. Namun pertanyaannya, apakah umur pengabdian saya pada Allah, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara sudah setimpal dengan nikmah umur biologis yang diberikan Allah kepada saya? Agaknya belum.

        Karena itu saya harus menilai diri dengan selalu merendah  di hadapan Allah: Apakah saya sudah memelihara tubuh dan pikiran saya sebaik-baiknya sebagai refleksi dari menghormati titipan pemilik-Nya? Apakah saya sudah menjadi seorang suami sekaligus orangtua yang amanah dari seorang isteri dan tiga anak dengan tujuh cucu sesuai harapan keluarga?. Apakah saya sudah menjadi warga masyarakat teladan di sekitar tempat saya tinggal ? Apakah sebagai dosen, saya sudah menjalankan kewajiban mengajar, meneliti dan melayani masyarakat dan keigiatan ilmiah lainnya secara optimum? Apa saja yang sudah saya sumbangkan untuk membangun IPB khususnya dalam bidang keilmuan, pengembangan staf muda, dan institusi? Bagaimana pula untuk bangsa?. Kalau belum berkiprah di berbagai segi kehidupan secara optimum, mengapa demikian? Unsur kelemahan atau kelalaian apa saja yang masih saya miliki selama ini?

       Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus saya jawab dalam bentuk tindakan nyata ke depan. Tidak cukup hanya untuk direnungkan. Tidak gampang memang. Dalam sisa usia kini dan ke depan ini tentunya saya harus manfaatkan seopimum mungkin. Tak boleh ada yang diabaikan. Karena itu yang perlu saya lakukan adalah terus berkomunikasi dengan Allah secara khusyu dan tawadhu. Tentunya untuk selalu memohon petunjuk-Nya agar saya diberi kekuatan untuk terus berkiprah di dunia ini sebagai bekal hidup kekal di akhirat nanti. Ya Allah, hamba memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepada hambamu ini ( al-Qashas; 24). Amiin