Sudah diketahui umum bahwa ucapan seorang pemimpin (Amir) dalam rejim pemerintahan otoriter atau monarki absolut cenderung sebagai perintah dan tidak dapat ditolak. Kalau ada yang membangkang siap-siap saja bakal dihukum berat. Sangat beda dibanding di negara demokrasi. Berikut contoh dalam humor sufi yang saya kutip dari, Republika Online (Jumat, 17 Oktober 2003).

       Suatu ketika, Amir kota membacakan sebuah syair yang digubahnya dan meminta pendapat Bahlul. "Aku tidak menyukainya," sahut Bahlul dengan polosnya. Amir pun marah dan memerintahkan agar Bahlul dijebloskan ke dalam penjara. Minggu berikutnya sang Amir memanggil Bahlul dan membacakan lagi syairnya yang lain di hadapannya. "Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya. Bahlul segera bangkit berdiri."Hendak ke mana kamu?" tanya sang Amir. "Ke penjara," jawab Bahlul.

       Apa pelajaran yang bisa ditangkap dari cerita di atas? Pada dasarnya setiap orang memiliki kapabilitas dan hak untuk menilai sesuatu. Istilah ilmiahnya memiliki kompetensi. Namun dalam keadaan tertentu ketika setiap penilaian selalu ditolak oleh orang yang dinilainya maka dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti saja apa yang dikehendaki oleh orang itu. Dalam dunia kerja hal ini tidak jarang terjadi. Seorang karyawan diminta manajernya menilai gagasan sang boss tersebut. Ketika proses penilaian terjadi dan sang karyawan sudah menyampaikan hasilnya maka ada tiga kemungkinan yang ada. Pertama, manajer menerima hasil penilaian. Kedua netral-netral saja sambil sang manajer akan berpikir lagi. Dan ketiga manajer menolak penilaian tersebut. Dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia (SDM), sang manajer seharusnya menghargai kepada karyawan bersangkutan, apapun hasil penilaiannya.

        Salah satu bentuk pengembangan SDM adalah memberi kepercayaan kepada setiap karyawan untuk mengembangkan daya prakarsa, daya cipta, dan daya kritisnya. Hal ini penting ketika perusahaan ingin memiliki kemampuan bersaing. Untuk itu dibutuhkan karyawan yang unggul antara lain adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu selain pelatihan maka kesempatan untuk terus mengembangkan bakat dan kapabilitasnya dalam dunia praktek menjadi hal yang sangat strategis. Karyawan harus dibiasakan untuk berpikiran maju. Salah satunya adalah berpikir kritis dan inovatif.

Iklan