Mengapa masih saja ada kekisruhan dan kerusuhan,? Mulai dari tingkat antarindividu, kampung atau desa, di jalanan, acara musik, pertandingan sepak bola,  sampai di tingkat parlemen? Tak ayal lagi ketika itu terjadi maka wajah-wajah marah dan sangar begitu diobralnya. Semua enerji positif hilang begitu saja karena dilindas oleh kemarahan dan bahkan dendam hati yang tak terkendali. Kalau toh terjadi gesekan mengapa tidak mampu dihadapi dengan  menahan emosi atau sabar. Atau disertai wajah penuh senyum saja? Memang tidaklah mudah apalagi yang menyangkut fenomena masal atau suatu kerumunan. Sementara itu kita mulai saja dahulu melatih banyak senyum di masing-masing individu.

         Mungkin pengalaman Anda seperti saya. Saat bertemu dengan beragam orang dalam suatu pembicaraan kita bakal melihat mimik bibirnya. Dari wajahnya tampak sudut gerak bibirnya. Ada yang tertarik ke atas, datar dan tertarik ke bawah atau mungkin ke samping kiri dan kanan. Bila datar-datar saja bisa jadi orang itu berhati dingin dan tidak peka pada lingkungan perbincangan. Bahkan mungkin tidak punya rasa humor atau kehangatan hati alias serius. Bila tertarik ke bawah di situ ada kesedihan, ada keluhan, kecemasan dan bahkan boleh jadi ada kejudesan. Bila tertarik ke atas pasti di situ ada senyum. Kalau ke samping kiri-kanan mungkin sedang mencibir kita.

         Kata orang, kesan pertama begitu menggoda karena senyumnya. Namun hati-hati; ada senyum lepas vs ada yang sinis, ada yang hangat vs ada yang dingin, dan ada yang polos vs ada yang terpaksa. Karena begitu berjuta makna,  maka kata ‘senyum’ banyak dijadikan sebagai judul atau lirik  lagu atau metaphor. Pernahkah anda mendengar lirik lagu: "When I see you smile, I can face the world, –oh –oh, You know I can do anything…" atau “ I can’t smile without you….”. bahkan ada yang begitu hiperbolisnya; “senyum mampu memindahkan gunung; mampu menyebrangi samudra”..etc etc. Tetapi ada juga  lagu yang berisi lirik pesimis; “senyum sebagai pembawa sengsara”…..”senyummu tanpa makna ”..’’di balik senyum dia hianati cinta”..bla..bla.

         Selain itu bisa jadi ada makna tersembunyi dan penuh penasaran. Misalnya  senyuman misterius  Monalisa dalam lukisan Da Vinci. Begitu juga kalau ada orang termasuk kita  yang tersenyum sendirian. Entah apa yang ada di pikirannya; mungkin karena teringat adegan lucu atau adanya lintasan kenangan indah atau pikiran lagi ngeres. Tapi hati-hati  kalau terlalu sering, bisa-bisa disebut orang…. ANU…alias kurang waras.Senyum merupakan fenomena alami.  Nilainya sangat bermakna ketika kita memberi senyum kepada orang lain. Bisa berarti kita menaruh simpati, penghargaan, pengakuan diri, dan persahabatan. Dengan kata lain, kita telah membuat teman bicara kita diakui kehadirannya. Dan tentunya mereka akan senang. Misalnya saja ketika kita mengunjungi seorang teman atau kerabat yang sedang sakit.

         Tegur sapa dengan senyum Insya Allah dapat merupakan obat penyejuk batin baginya. Apabila itu terjadi maka sifat senyum dapat disebut sebagai sedekah karena telah membuat orang lain tercerahkan dan bergairah hidup. Sebab anda telah menunjukkan kehangatan dengan senyum tulus. Sebaliknya kalau ada orang yang  berpendapat atau minta bantuan tertentu tapi kita hadapi tanpa senyum maka hasilnya akan lain. Atau senyum sinis melecehkan. Sudah bisa diduga yang bersangkutan akan kecewa dan sedih. Karena itu saya yakin anda akan murah senyum. Tanpa ongkos berapa pun kenapa harus kikir senyum?.

        Dalam salah satu lirik lagu berjudul “Senyumlah” karangan warga Malaysia Farihin Abdul Fatah, Zarie & Che Amran disitu terurai “Senyumlah seperti Rasulullah; Senyumnya bersinar dengan cahaya; Senyumlah kita hanya kerana Allah; Itulah senyum bersedekah”.

Iklan