Dalam kamus bahasa Indonesia (S.Wojowasito, CV Pengarang, 1999), bingung diartikan sebagai tidak tahu jalan atau kehilangan akal. Hampir sama dengan bingung, makna bengong adalah terdiam setelah mengalami sesuatu kejadian, misalnya karena tertimpa musibah. Dalam pemahaman saya, bingung merupakan awal dinamika dari seseorang ketika menghadapi suatu masalah berdimensi ilmiah. Misalnya telaahan tentang fenomena kinerja bisnis yang cenderung menurun.

         Biasanya setelah mengetahui kejadian ril maka kemudian akan diikuti dengan keinginan tahu untuk menjawab mengapa kejadian itu terjadi. Lalu dianalisis dan dirumuskan pendekatan pensolusian masalahnya. Dengan demikian, seseorang yang bingung akan segera mampu memperkecil ketidaktahuannya dan bahkan menghapus kehilangan akalnya. Sekaligus pula orang tersebut akan mampu menghilangkan kebengongannya dan sekaligus mencari upaya pensolusian masalahnya.

         Namun kadar bingung dan bengong di kalangan masyarakat luas yang satu ini agak lain yaitu  ketika akhir-akhir ini ada hasil sidang paripurna DPR tentang kasus Bank Century.  Berbagai penafsiran dari para pengamat,pemerintah, dan anggota parlemen yang membuat banyak pihak  menjadi “bingung” dan “bengong”. Contohnya mereka bingung dan tak berdaya apa layak wapres dan menteri keuangan harus lengser. Sekarang sedang santer bicara adanya penafsiran yang berbeda tentang dasar hukumnya. Pihak kepolisian masih butuh barang dan alat bukti. Sementara kejaksaan belum yakin dasar-dasar hukumnya. Malah tersiar kabar KPK mengatakan tidak jelas dasar hukumnya.

        Sudah diketahui umum maka akibatnya adalah timbulnya rasa puas dan tidak puas di kalangan khalayak luas. Misalnya mengapa presiden tidak segera memecat pembantunya. Di sisi lain DPR pun belum ada gerakan politik berarti. Pasalnya DPR pun seperti bingung dan bengong tidak tahu apa yang akan dilakukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Iklan