Lama kelamaan dengan semakin modernnya kehidupan, semakin berkembangnya tuntutan efisiensi pola pekerjaan, dan semakin tingginya pekerjaan yang bersifat lunak maka unsur “otak” memegang peranan sangat penting. Dengan kata lain pekerjaan yang mengandalkan otot semata semakin berkurang; diganti oleh otak. Mengapa demikian?

         Pada masa terjadinya revolusi industri maka mulai dikenal prinsip-prinsip efeisiensi kerja. Antara lain dalam bentuk penggunaan pekerja otot dalam jumlah yang minimum. Terjadilah substitusi penggunaan pekerja dengan penggunaan alat atau mesin. Atau istilah modernnya adalah mekanisasi. Tugas-tugas para pekerja di bidang fisik diminimumkan. Dan para pekerja dikembangkan SDMnya melalui pelatihan, pengalihan tugas, dan penempatan pada posisi baru yang banyak menggunakan potensi otak.

         Seiiring dengan pekerjaan bersifat lunak maka proses pengembangan sumberdaya manusia melalui jalur pendidikan semakin dibutuhkan. Pihak manajemen melihat pendidikan dan pelatihan akan mampu menghasilkan orang-orang yang trampil dan berbakat. Pihak manajemen percaya bahwa karyawan terutama yang bekerja di bidang perencanaan, evaluasi, dan rancangan perlu dikembangkan pengetahuan dan bakatnya.

          Sebagai tindak lanjutnya maka banyak perusahaan sudah membuat departemen khusus untuk menangani masalah-masalah sumberdaya manusia. Departemen ini berfungsi untuk melakukan perencanaan kebutuhan sumberdaya manusia, menganalisis pekerjaan dan bebannya, merekrut dan menseleksi calon karyawan baru, melatih, mengembangkan manajemen kompensasi, manajemen kinerja, manajemen karir, hubungan industrial, dan manajemen pemutusan hubungan kerja.

           Pelibatan para karyawan dalam mengambilan keputusan perusahaan terus semakin berkembang. Kalau tempo doeloe para pekerja diposisikan semata-mata sebagai faktor produksi maka pihak manajemen sudah banyak yang menempatkan karyawan sebagai aset perusahaan. Mereka adalah unsur investasi efektif. Filosofinya adalah tidak mungkin perusahaan bakal maju kalau tidak didukung oleh mutu SDM karyawan-karyawannya. Karena itu cenderung sudah banyak perusahaan yang menerapkan prinsip-pinsip partnership manajemen atau manajemen kemitraan.

          Para karyawan dianggap sebagai mitra dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Perusahaan lewat proses umpan balik memberi peluang kepada karyawan untuk melakukan penilaian kinerja dan memberi masukan-masukan cerdas. Jadilah para karyawan disebut sebagai mitra pihak manajemen. Suatu bentuk transformasi struktural dari posisi karyawan sebagai pekerja otot dan semata-mata sebagai faktor produksi menjadi karyawan sebagai aset perusahaan yang berbasis manusiawi.

Iklan