Dunia politik dan dimensi teladan belakangan ini sedang mendapat perhatian serius. Fenomena politik bisa dengan bebas memertanyakan keteladanan sang maestro kampus. Dan dengan terang benderang yang bersangkutan diduga ada indikasi sebagai biang kerok terjadinya kebijakan pemerintah yang salah-keliru. Dari sana sini sang teladan gencar diobok-obok. Sang teladan berdiam diri dan pasrah. Kalau sudah begitu yang semula putih polos mulai ada goretannya. Dimensi tuntutan dunia politik sudah semakin melirik, menggoda dan bahkan mengancam sang teladan. Tentu saja semakin dilihat semakin prihatin menambah goretannya sehingga akhirnya tak jelas lagi warna putih, kelabu, atau hitam.

        Dalam kondisi seperti inilah, seteladan apa pun seseorang jika keimanan dan ketaqwaan tidak kuat, tidak paham lika-liku birokrasi dan politik yang banyak tikungan dan jebakan maka akhirnya akan jatuh ke jurang yang dalam. Goretan sudah menjadi luka terinfeksi (busuk) yang meluas ke seluruh jasmani dan rohaninya. Saking parahnya, yang bersangkutan harus mundur dari arena kekuasaan karena tuntutan politik dan bisa jadi tuntutan hukum. Ketika itu terjadi, tidak ayal lagi fenomena bungkuk-bungkuk dari bawahan pun hilang berubah menjadi tegak kembali sambil mengumpat, upeti berhenti seketika dan bahkan orang pun enggan menyapa. Aneh tetapi nyata malah mereka semakin menjauh.Tetapi bisa jadi muncul simpati dan kesedihan di raut muka para kolega dan subordinasinya.

        Lalu siapa yang salah dan apanya yang keliru?. Secara sistem, jika satu orang berbuat salah maka lingkungannya, khususnya lingkaran dalam, juga seharusnya ikut keliru karena telah berdiam diri atau tidak mengingatkan superordinatnya. Namun sistem yang ada membuat siapa pun tidak berani menegur sang bos selaku penguasa. Kalau sudah begini orang sering menyalahkan bahwa persoalan ini “seperti benang kusut” atau  “seperti lingkaran setan”. Padahal setan ngga salah .

        Bahkan konon ada yang bilang, sambil bergurau, setan pun sudah sulit melaksanakan TUPOKSI (Tugas, Pokok dan Fungsi)nya sebagai penggoda manusia. Dan pernah terbersit di hatinya untuk “minta pensiun” dini karena yang digoda (manusia) sudah lebih canggih memilih dan melakukan dosa (yang dulu mereka hindari). Lalu siapa yang layak disalahkan?, Jadi lebih baik kalau ada yang salah atau keliru jangan salahkan lingkaran setan tetapi lebih tepat disebut “lingkaran manusia saja”. Yang alpa diri akan kelemahan dan ketidakberdayaannya………