Menjadi seorang kader partai politik tidaklah sulit asalkan yang bersangkutan aktif dalam setiap kegiatan partai dan mengikuti kaderisasi berjenjang. Pada gilirannya jadilah dia seorang politisi yang setia kepada partainya. Apalagi kalau dia memiliki aset banyak dalam bentuk materi walaupun yang bersangkutan hanya memiliki kadar intelektual seadanya. Di sisi lain  menjadi seorang guru besar tidaklah mudah. Sebelumnya dia harus melewati seleksi kinerja akademik (pengajaran, penelitian, karya ilmiah, pemberdayaan pada masyarakat) dan tentunya kepribadian. Prosesnya cukup ketat. Tidak sembarang orang bisa menjadi guru besar. Karena itulah keputusannya berada ditangan seorang presiden setelah mendapat rekomendasi menteri pendidikan nasional.

        Ada yang mengatakan seorang guru besar adalah orang yang maha ahli di bidangnya. Jadi apapun kalau orang lain bertanya tentang aspek yang terkait dengan keahliannya datanglah ke guru besar tersebut. Pasti akan dijawab tuntas. Benarkah seperti itu? Tidak juga. Seorang guru besar adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kelemahan dalam bentuk ketidaktahuan. Dia bukan superintelektual-serba tahu. Ilmu itu begitu luas dan selalu berkembang. Namun dalam kenyataannya bukan berarti tak ada guru besar yang merasa dirinya serba tahu. Istilahnya sebagai guru besar gado-gado atau cap-cay.

         Sementara itu seorang guru besar sering ditampilkan sebagai pribadi yang bijak, arif, kharismatik dan menjadi panutan mahasiswa, teman sejawat dan masyarakat. Benarkah seperti itu? Ya harapannya demikian. Tetapi dalam kenyataannya tidak selalu begitu. Tiap orang memiliki kekuatan dan juga kelemahan. Sebagaimana warga lainnya, dengan potensi emosi personalitasnya, guru besar pun bisa arogan, egois, dan pemarah. Coba saja dilihat dalam rapat-rapat pansus kasus bank Century, misalnya ada guru bsar meladeni pancingan salah seorang anggota pansus yang nyeleneh dibalas dengan wajah galak dan suara keras. Juga di dunia politik ada guru besar yang sombong dan tak malu-malu merendahkan status orang lain dengan cara memaki-maki. Dalam keadaan seperti itu dia memperoleh julukan sebagai Guru Besar-Kepala.

        Guru Besar seharusnya bersikap kritis yang obyektif. Tetapi ketika dia berada dalam lingkungan politik sekaligus sebagai kader partai politik, mereka sering terperangkap sikap bias. Etika keilmuan rasanya terlupakan atau malah dilupakan. Yang ada lebih pada pemikiran dan tindakan demi kepentingan partai dan golongannya atau subyektif ketimbang buat rakyat. Sindir menyindir antarsesama dalam dunia politik telah menjadi tontonan sendiri di kalangan masyarakat. Bual membual tidak jarang terjadi. Tidak ubahnya sebagai lawakan srimulat. Berdebat kusir tak ada ujung pangkalnya tanpa mau mengakui kelemahan-kelemahannya. Apakah ini pantas dijadikan contoh sebagai pembelajaran politik yang diharapkan masyarakat? Ataukah sebaliknya sebagai pembodohan masyarakat?

         Ketika seorang guru besar sudah berada dalam lingkungan politik praktis maka cenderung pola pikirnya terbelah dua; apakah sebagai politisi atau ilmuwan. Celakanya mereka yang sudah memasuki ranah politik dan semakin lama semakin asyiik saja ternyata semakin jauh dari kegiatan-kegiatan akademik. Dan hebatnya tanpa sekalipun merasa risi tetap saja yang bersangkutan menggunakan “titel” profesor padahal itu adalah jabatan akademik. Hal yang sama pun terjadi, walau dia sudah pensiun sebagai PNS dan sekarang memilih profesi dan karir sebagai aktifis partai.

         Idealnya sosok seorang guru besar memang dia yang tekun mengajar, meneliti, menghasilkan karya ilmiah (buku, karya tulis dan temuan), mampu membangun jejaring kerjasama ilmiah dengan institusi ilmiah dan industri nasional dan internasional, arif dan bijaksana. Selain itu seorang guru besar yang berkiprah sekalipun di dunia politik seharusnya mampu bersikap ilmiah dan tidak bias kepentingan partai politik sempit. Mereka seharusnya mampu melakukan internalisasi di lingkungan mitra anggota parpol dan parlemen bagaimana bermain politik dengan cantik dan santun. Dan mampu mengetengahkan sikap yang elegan yang bisa dicontoh oleh rakyat.

Iklan