Januari 2010


 

        Setiap tahun fenomena mutilasi selalu saja muncul. Belakangan ini ada beberapa kejadian perlakuan mutilasi oleh segelintir orang.  Sepertinya suatu ketika fenomena itu bakal menjadi hal yang dianggap biasa-biasa saja oleh sebagian kecil masyarakat yang perilakunya menyimpang. Contoh terakhir adalah sang  Babe yang merasa puas setelah membunuh dengan cara mutilasi terhadap tujuh orang anak “asuhannya” yang berusia 9-14 tahun. Sebelum tewas sang anak disodominya. Apakah itu tindakan kejam? Rasanya setiap orang langsung mengatakan mutilasi adalah tindakan kejam.

        Nanti dulu, jangan kaget. Bergantung pada definisi dan konteksnya. Kita kalau makan daging hewan ternak apapun bentuknya itu kan sudah terpotong-potong (mutilasi). Ketika makan kita tidak merasa risi atau mau muntah. Karena memang tidak ada konteksnya dengan mutilasi pada manusia. Kemudian beberapa tahun lalu ada peristiwa ditemukannya 67 mobil mewah Mercedes Benz, Nissan dan Toyota yang sudah termutilasi. Sedikitnya menjadi dua potongan yang terurai. Kejadian yang disebut terakhir itu kejam bukan dalam arti anti sosial-manusiawi tapi dalam arti kriminal murni. Begitu juga mutilasi yang terjadi pada manusia.

        Namun dalam kenyataannya  ada yang berpandangan berbeda tentang mutilasi terhadap manusia. Tidak semua mutilasi dianggap kejam oleh para pelakunya atau masyarakat yang mempercayainya. Di suatu daerah pedalaman Maluku Tengah pada bulan Juli 2005 ada sebuah suku melakukan mutilasi sebagai ketentuan adat. Terjadi secara tradisi sebagai peninggalan nenek moyang mereka. Atas penetapan kepala suku lalu lima orang anggota suku diperintahkan mencari korban yang berasal dari luar desa itu. Sesuai aturan potongan tubuh harus disembunyikan di hutan dalam lubang bambu (bagian kepala, jantung, lidah dan jari-jari tangan). Para pelaku adalah kelompok masyarakat yang belum memeluk agama yang diakui secara nasional.

         Terlepas dari unsur latar belakangnya, apapun mutilasi menurut hukum acara pidana (KUHAP) adalah perbuatan kriminal. Polisi menyebutnya sebagai perbuatan di luar kewajaran. Jadi harus dituntut secara hukum. Para psikolog mengatakan unsur penyebabnya beragam. Ada yang karena stres berat, epilepsi agresif, sakit jiwa, ketentuan adat kuno, dan memang karena punya jiwa kejam berbasis dendam mendalam sewaktu masih kecil. Dibutuhkan sosialisasi ajaran agama yang sah dalam penanaman kesadaran keluarga tentang perlunya keharmonisan kehidupan sosial secara intensif. Bagi masyarakat adat yang masih tertinggal (buta hukum) dibutuhkan pembinaan intensif dari Dinas Sosial dan pemuka agama setempat.

 

        Di pagi cerah beberapa hari lalu seperti biasa saya senang berjalan keliling halaman di belakang rumah. Tak lupa saya lakukan sambil menggendong cucu saya yang ketujuh. Saya memperhatikan pohon salam, jambu, mangga, sawo, sirsak, rambutan binjai, nangka, dan rumput hijau segar, bunga bakung, bunga melati, kembang sepatu, dan anggrek. Di situ tergambarkan ketinggian dan kerindangan pohon yang beragam. Namun semua secara kolektif telah memberikan kenyamanan semarak hijau segar dengan bunga-bunga indah. Desir angin pagi ditambah sekali-sekali bunyi cicit burung membuat perasaan saya semakin hanyut dalam kedamaian.

       Setelah puas menikmati udara segar pagi di luar, kemudian saya masuk ke dalam rumah melihat acara televisi nasional atau membaca koran. Disamping ada berita-berita menyejukkan, di situ ada juga berita yang kontras dibanding ketika saya melihat tanaman di halaman. Yaitu tentang sifat manusia dalam unjuk rasa dan konflik yang dipenuhi oleh angkara murka. Berita pagi itu memperlihatkan orang-orang angkuh dan pemarah. Keonaran itu membuat hati ini sedih, jauh dari kedamaian. Manusia diperlakukan begitu rendahnya berhadapan dengan benteng ketinggian hati.

        Rendah atau pendek adalah lawan dari tinggi. Biasanya orang memandang kondisi rendah dan tinggi untuk hal fisik dan derajat sesuatu. Badan tinggi, pohon tinggi, menara tinggi, gunung tinggi, terbang tinggi itu adalah ukuran fisik. Ukuran itu biasanya menunjukkan kehebatan. Badan tinggi biasanya menandakan gagah. Pohon tinggi merefleksikan pohon yang kuat. Menara dan gunung tinggi serta pesawat terbang tinggi sepertinya sangat ambisi ingin meraih langit. Sementara itu tinggi hati, temperamen tinggi dan suara tinggi adalah ukuran derajat emosi atau kepribadian seseorang. Tinggi hati sering disebut sombong. Temperamen dan suara tinggi umumnya disebut pemarah. Orang lain sering diremehkan. Dan dua sifat ini biasanya kurang disenangi. Bagaimana dengan sesuatu yang rendah atau pendek?

        Ada yang disebut rendah diri (bukan pendek diri) antara lain karena keterbatasan kepemilikan aset materi, fisik tubuh, dan pengetahuan yang rendah. Nah ini sebenarnya tidak perlu karena di mata Allah semua orang adalah sama. Kecuali iman dan takwanya. Banyak orang dengan tubuh yang sangat pendek tapi kepribadian dan karirnya tinggi. Mengapa? Ya karena tidak pendek akal. Sementara di pihak lain ada orang berbadan tinggi besar tetapi semangat hidupnya rendah dan dangkal. Artinya seolah tak berdaya dan cenderung malas serta putus asa. Motivasi hidup kurang. Padahal Allah berkehendak agar tiap insan bekerja keras untuk memakmurkan bumi ini. Contoh lainnya?

        Pohon, selain ada yang tinggi juga ada yang disengaja dibuat sangat pendek (dibonsai). Tapi itu bukan berarti pohon itu tidak kuat. Lihat saja pohon teh sengaja dipangkas agar daunnya lebat dan mudah dipetik. Padahal kalau tidak dipangkas tingginya bisa mencapai lebih dari lima meter. Bahkan pohon beringin yang begitu besar dan kokoh bisa diperpendek melalui metode bonsai. Setelah itu harganya luar biasa mahal. Begitu juga rendah diri di hadapan Allah bukan suatu sifat yang lemah. Justru sifat itu mencerminkan iman dan takwa yang tinggi. Alasannya Allah segala Maha. Tak ada yang mampu menandingiNya.

         Hal ini berbeda dengan sifat rendah diri di hadapan orang lain. Artinya, selain Allah, orang itu menilai orang lain lebih tinggi segalanya dibanding dirinya. Merasa tak berdaya. Jadi itu sifat yang tidak dikehendaki Allah. Kemudian berbeda dengan rendah diri adalah yang disebut rendah hati. Yaitu sifat berkesetaraan dengan orang lain tetapi tidak sombong walau memiliki kelebihan di segala bidang. Tidak mau membuat orang kecewa. Dia sadar apa yang dimilikinya adalah karunia Allah semata. Umumnya tiap orang sangat senang dengan orang yang rendah hati. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan (al-Furqaan; 63). Jadi ternyata sifat rendah hati atau sesuatu yang tidak tinggi (pendek) tidaklah jelek.

Diadaptasi dari Tb Sjafri Mangkuprawira. 2007. Ronawajah, Coretan seorang dosen. IPB Press.

 

        Saya memerkirakan setiap inidvidu khususnya yang berusia di atas  balita pernah melakukan push up. Jenis olahraga ini sangat diminati oleh tua-muda dan lelaki-perempuan. Push up (PU) adalah suatu jenis senam kekuatan yang berfungsi untuk menguatkan otot bisep maupun trisep (Wikipedia). Posisi awal tidur tengkurap dengan tangan di sisi kanan kiri badan. Kemudian badan didorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki dan badan tetap lurus atau tegap. Setelah itu, badan diturunkan dengan tetap menjaga kondisi badan dan kaki tetap lurus. Badan turun tanpa menyentuh lantai atau tanah. Naik lagi dan dilakukan secara berulang.

        Apakah PU hanya dilakukan untuk alasan olahraga agar kondisi fisik tubuh menjadi semakin bugar dan sehat? Tidak juga. Di dunia militer, PU dapat menjadi salah satu bentuk hukuman bagi anggotanya yang tidak disiplin. Selain PU bisa saja dalam bentuk lari keliling barak. Bentuk ini bukan barang asing bagi yang terkena hukuman. Tujuannya adalah agar timbul efek jera sehingga kedisiplinan para anggota bisa terujud. Bagaimana dengan di dunia non-militer? Bisa juga diterapkan,misalnya di kalangan kampus yang menekankan kedisplinan tinggi para mahasiswanya. Misalnya di PTIK, Institut Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Maritim, dsb. Lalu bagaimana kalau diterapkan di perguruan tinggi umum?

         Saya kurang mengetahui apakah ada perguruan tinggi umum yang menerapkan hukuman dalam bentuk PU. Tetapi yang jelas saya terinspirasi dengan adanya kasus kriminal yang terjadi di suatu sekolah di Inggeris. Lintas Berita (5-12-08);TEMPO Interaktif, London mewartakan seorang guru di Inggris dihukum penjara setelah terbukti menyuruh murid-muridnya melakukan "push-up" sebagai hukuman lantaran datang terlambat ke sekolah. Untuk itu saya mencoba menjaring beberapa pendapat lewat status saya di facebook kemarin. Kasusnya adalah kalau ada dosen yang menghukum mahasiswanya dengan cara menyuruh PU karena terlambat datang ke ruang kuliah. Ada 13 orang yang menanggapinya. Ada tanggapan berupa pertanyaan, ada yang berpendapat sesuatu, dan ada yang menolak. Alasan penolakannya beragam. Ada yang bernada serius dan ada yang sambil bercanda ria.

         Semua dari mereka sangat tidak setuju diterapkannya sanksi hukuman tersebut di perguruan tinggi umum. Ada yang beralasan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi umum lebih menekankan pada pencapaian kinerja akademik para lulusannya. Selain itu dikembangkan soft skills untuk membangun sikap dan kepribadian lulusan yang mumpuni. Bukan kedisiplinan fisik yang dibangun tetapi kedisiplinan akademik. Misalnya dalam bentuk resiko dari tidak tercapainya minimum kehadiran dalam kuliah dan praktikum. Sanksi diberikan bisa dalam bentuk tidak boleh ikut ujian, pemberian tugas akademik tambahan, dan bahkan sampai keluar kalau ternyata terbukti melakukan plagiat dan menyontek. Dengan cara-cara ini ternyata lebih membuahkan hasil yang efektif untuk menghindari tindakan “kriminalitas” akademik ketimbang dengan PU. Kalau dengan bentuk PU, yang bakal terjadi bukannya efek jera namun ada persaan malu dan sakit hati diperlakukan di depan para teman-teman sekuliah.

          Selain hal yang serius ada juga yang bertanya dengan nada bercanda. Misalnya ada pernyataan yang membuat saya tersenyum yakni dosen yang menghukum dengan cara PU dikatakan cocok sebagai DanYon batalion tentara atau instruktur pendidikan militer. Dan ada juga yang menyamakan dosen seperti itu sebagai dosen olahraga. Selain itu dipertanyakan apakah hukuman PU juga berlaku bagi para mahasiswi yang terlambat datang kuliah. Jangankan tentang keterlambatan mahasiswi tetapi pertanyaan yang hampir mirip juga muncul yakni apa yang harus dilakukan kalau dosennya sendiri sering datang terlambat mengajar? Bukankah hal itu bakal malu-maluin dunia kampus? Ah ada-ada saja.

 

        Pernah kita saksikan kejadian seru  di sidang MPR dan DPR beberapa tahun lalu yakni terjadinya baku hantam sesama anggota “terhormat”. Belum lagi di antara wakil rakyat ada yang masuk bui karena terbukti menerima suap. Belakangan ini juga terjadi perseteruan antaranggota (sebagian kecil) parlemen dengan saling caci maki ketika rapat Panitia Khusus Angket Kasus Bank Century. Keegoan yang tinggi dan cenderung angkuh telah menguasai emosinya sehingga ucapan dan tindakan-tindakannya tidak rasional dan proporsional lagi. Padahal semua masyarakat menyaksikan adegan gratis itu. Intinya jauh dari pembelajaran politik yang memadai. Pertanyaannya masih pantaskah sebutan anggota parlemen terhormat kepada beberapa oknum seperti itu? Kemana pula hasil pembelajaran budi pekerti yang pernah dijalani ketika masih duduk di bangku sekolah? Apakah mereka masih layak untuk diberikan kursus Budi Pekerti (BP) lagi?

        Sampai di kelas tiga SMA (1962), saya masih memeroleh mata ajaran (BP). Kalau tidak salah pada tahun ajaran 2002 siswa di semua tingkat sekolah sudah mulai diberikan pengajaran BP lagi. Tujuannya agar para siswa memahami apa dan bagaimana hendaknya  sebagai individu sosial berperilaku baik dengan sesama. Karena itu siswa diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan dimensi etika, kedisiplinan, dan estetika. Lamanya pengajaran cuma dua jam dan diberikan secara klasikal. Hasilnya? Dalam raport pada umumnya siswa memeroleh nilai mata ajaran ini baik semua. Namun apakah prestasi di dalam kelas itu sejalan dengan perilaku nyata di lingkungan sosial? Belum tentu. Bisa saja mereka melakukan kegiatan asosial yang mengganggu lingkungan sekolah dan luar sekolah. Mengapa demikian? Diduga ada yang salah dalam proses pembelajaran BP.

        Proses pembelajaran, khususnya yang secara terstruktur, pada dasarnya ditujukan pada perubahan tiga domain para siswa. Domain tersebut adalah perubahan penguasaan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotorik) di bidang tertentu. Begitu pula dalam proses pembelajaran BP. Siswa diharapkan mampu meningkatkan taraf tiga domain tersebut. Namun dalam kenyataannya tidak semua siswa mengalami perubahan perilaku atau sikap. Kalau ini terjadi maka pembelajaran hanyalah berhasil sampai pada taraf kognitif saja. Sementara domain sikap tidak terbentuk secara menyeluruh. Hal ini diduga karena proses pembelajaran terlalu klasikal dan hapalan. Prosesnya sangat searah ditambah lagi tanpa ilustrasi berupa kasus-kasus. Sangat membosankan. Siswa tidak dikondisikan untuk aktif berpendapat dan terlibat dalam berdiskusi kelompok untuk membahas suatu masalah BP dan cara-cara mengatasinya. Begitu pula komponen BP sangat jarang dintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran . Selain itu bisa jadi keteladanan BP yang baik dari para guru dan karyawan sekolah juga kurang banyak yang bisa ditiru.

         Memang sekolah diposisikan atau dianggap sebagai mikrokosmos mayarakat, yang berperan sebagai otoritas moral. Namun di sisi lain tentunya perilaku siswa tidak hanya ditentukan oleh proses kehidupan belajar di dalam sekolah. Faktor di luar sekolah yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan BP siswa adalah pendidikan dalam keluarga. Peran orangtua untuk mensosialisasikan BP dalam bentuk nyata diduga sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku BP sang anak atau siswa yang baik pula. Semua anak perlu dikembangkan superegonya Fungsinya sebagai instrument kendali dan menghindari seseorang dari tindakan salah, buruk atau amoral. Kemudian mengajarkan apa yang salah dan benar. Disinilah orangtua sangat dominan membentuk superego anak untuk berperilaku baik yang tentunya disertai keteladanan orangtuanya itu sendiri.

 

        Dua kata, hitam dan gelap, umumnya memiliki cap sesuatu yang negatif. Gambaran sesuatu yang tak diinginkan. Coba kita lihat contoh kata-kata berikut. Kata hitam biasa dipakai antara lain untuk kambing hitam, lembaran hitam, kampanye hitam, daftar hitam, benua hitam, hitam putih, dan ilmu hitam. Sementara kata gelap yang lebih diasosiasikan dengan kejadian illegal, antara lain dipakai untuk  rapat gelap, sebaran gelap, uang gelap, pasar gelap, telepon gelap, imigran gelap, penumpang gelap, kekasih gelap, gelap hati, dan gelap mata. Pertanyaannya apakah kedua kata itu dipakai untuk selalu menggambarkan sesuatu yang penuh kenistaan? Hitam sebagai lambang kematian? Gelap sebagai sesuatu yang tidak senonoh dan melanggar aturan? Dan simbol tak ada harapan? Tidak juga.

        Selain sisi negatif, warna hitam, dapat dipandang sebagai simbol ketegasan. Pengaruhnya kuat dan tidak mudah dikotori warna lain. Warna lain kalau dicampur dengan warna hitam akan mampu memperkuat kesan warna tersebut. Selain itu ketika menulis dan mengetik apapun di atas bahan dasar putih akan lebih dominan ketimbang kalau memakai warna bukan hitam. Dalam konteks nilai komoditi ternyata teh hitam, anggrek hitam, dan pulip hitam banyak dicari konsumen. Pantas saja lalu komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Juga diketahui warna baju hitam yang dipakai seorang wanita konon memberi citra tubuhnya yang gendut jadi langsing. Dan bagaimana pula dilihat dari sisi kecantikan; seperti hitam manis pujaan kaum jomblo pria? Dan bagaimana gambaran hitam dan putih sebagai lambang diskriminasi (orang bule vs orang hitam) ternyata kini cenderung sudah punah? Dan ini tampak ketika banyak kaum hitam yang berprestasi di berbagai sisi kehidupan. Amerika saja dipimpin oleh presiden berwarna kulit hitam.

        Sisi positif dari kata gelap adalah sebagai unsur utama tercapainya keberhasilan suatu kegiatan. Misalnya,tak mungkin kita merasa nyaman menonton film di gedung bioskop kalau ruangannya terang benderang. Tak mungkin pula akan diperoleh foto rontgen dan foto biasa yang standar kalau tidak diproses dalam kamar gelap. Selain itu terdapat ungkapan…ada gelap ada terang. Ada pesimis ada optimis. Ada peluang buat siapapun berubah dari sisi kehidupan yang gelap ke kehidupan yang lebih bermakna. Ingat saja kata-kata dari sesuatu yang belum ada titik terang….lalu berubah….habis gelap terbitlah terang….gelap kan sirna. Begitulah pemaknaan optimis dari kata gelap.

        Dalam prakteknya pemakaian kata atau kelompok kata tersebut bukanlah dalam arti riil atau yang sebenarnya. Tetapi kalau bukan metafora berarti faktual. Sementara kalau metafora  hanyalah sebagai lukisan atau simbol yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Kedua kata itu merupakan metafora kehidupan yang pasti dialami oleh siapapun. Bisa bernada ejekan, kehidupan pesimis tanpa harapan, perilaku amoral, pelanggaran aturan/hukum dsb. Metafora muncul bisa jadi merupakan kumpulan produk kiasan dari bahasa daerah atau mungkin juga datang dari luar negeri. Ungkapannya bisa ditunjukan antara lain dari penggunaan bahasa, ayat kitab suci, hasil arsitektur, penafsirani warna, seni musik dan lagu, proses pembelajaran, dan pemandangan. Bahkan bisa juga dipakai dalam dunia perseteruan antarpenegak hukum  baru-baru ini  yakni “cicak melawan buaya”.

 

       Beberapa pemerintah daerah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya telah mengeluarkan peraturan daerah tentang larangan mengemis. Tidak saja kepada sang pengemis yang akan dikenai hukuman tetapi juga kepada pemberinya. Selama ini pandangan sebagian masyarakat tentang pengemis tertuju pada stigma negatif yakni pengemis sama saja dengan pemalas; pengemis mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan; pengemis sebagai gambaran wajah rendahnya martabat suatu bangsa; dan pengemis merefleksikan tidak mampunya pemerintah memberdayakan mereka seperti diamanatkan dalam UUD 1945. Itu dilihat dari kaca mata kebutuhan material.

        Namun ada lagi tipe pengemis yang berbasis pada kebutuhan status sosial seperti pengemis cinta dan pengemis jabatan. Keduanya sama konyolnya. Bukankah cinta itu merupakan titik keseimbangan pertemuan antara suplai dan permintaan akan perhatian, pengertian, dan tanggung jawab pelakunya? Termasuk di dalamnya ada proses mengetahui siapa diri masing-masing. Biarkanlah cinta itu tumbuh dengan sendirinya secara alami. Tidak perlu merengek dan mengemis pada pasangannya sambil berujar; “aku tak bisa hidup tanpamu”……gombal..

       Begitu pula dengan mengemis jabatan. Kan seharusnya sudah bisa dipahami bahwa jabatan itu sebenarnya amanah. Jadi menurut agama (islam), jangan cari-cari jabatan apalagi kalau meminta dengan ibanya pada orang lain. Bukankah jabatan itu datang dengan sendirinya ketika kita punya kompetensi (pengetahuan, sikap, kepribadian, dan ketrampilan) dan kepercayaan tertentu?. So mengapa harus mengemis dengan mengorbankan kemartabatan diri dan keluarga? Nah sebaliknya ketika jabatan atau amanah itu diberikan seseorang maka kita wajib menegakkannya.

         Uraian tentang pengemis berikut dibatasi pada aspek kebutuhan materi. Pemberdayaan pengemis akan percuma saja kalau tidak diawali dengan identifikasi akar permasalahannya, perilakunya, dan potensinya. Tidak bisa dipungkiri unsur penyebab utama adanya pengemis adalah kemiskinan. Kemiskinan timbul bisa disebabkan oleh beragam faktor bergantung pada tipenya; kemiskinan struktural, natural, kultural, dan mental. Kemiskinan struktural karena kekeliruan suatu kebijakan pemerintah yang cenderung tidak memihak pada kebutuhan dan kepentingan rakyat. Akibatnya terjadi ketimpangan dalam berusaha dan pendapatan. Akibat lainnya dari kebijakan yang menyimpang dicirikan oleh keterbatasan penguasaan aset produksi, rendahnya tingkat pengetahuan dan ketrampilan, lapangan kerja kurang, dan pendapatan masyarakat yang sangat rendah.

         Sementara itu kemiskinan natural disebabkan oleh miskinnya sumberdaya alam. Masyarakat tidak mampu mengolah lahannya karena memang unsur ekosistemnnya tidak mendukung; sementara di bidang ekonomi lain pun di daerah itu tidak berkembang. Sedangkan kemiskinan kultural berangkat dari persepsi, sistem nilai, dan perilaku sosial yang kurang mendukung perlunya pembangunan manusia yang bersinambung. Pandangan tentang tabu, rendahnya kepercayaan, dan tingginya resistensi akan modernisasi misalnya bisa menghambat masyarakat untuk maju. Hal ini secara gradual bisa menjadi cikal bakal timbulnya kemiskinan. Berbeda dengan kemiskinan materiil, tipe kemiskinan mental lebih didasarkan pada rendahnya motivasi atau spirit seseorang. Isu kemiskinan tipe seperti ini berangkat dari rendahnya mental masyarakat untuk maju. Ciri-cirinya adalah sifat malas, kurangnya semangat kemandirian, kurang percaya diri, hidupnya terlalu mengandalkan pada orang lain, dan kurang bertanggung jawab.

         Kalau uraian tentang kemiskinan di atas dikaitkan dengan perilaku mengemis maka secara lebih spesifik bisa diuraikan unsur-unsur penyebabnya. Pertama, mengemis karena tidak berdaya sama sekali dalam segi materi, karena cacat fisik, tidak berpendidikan, tidak punya rumah tetap atau gelandangan. Kedua, mengemis seperti sudah menjadi profesinya. Walau sudah memiliki aset produksi atau simpanan bahkan rumah dan tanah dari hasil mengemis tetapi mengemis tetap berlanjut. Jadi alasan mengemis karena tidak memiliki aset atau ketidakberdayaan ekonomi, untuk tipe pengemis ini tidak berlaku lagi. Ketiga, mengemis musiman, misalnya menjelang dan saat bulan ramadhan, hari idul fitri, dan tahun baru. Biasanya mereka kembali ke tempat asal setelah mengumpulkan uang sejumlah tertentu. Namun tidak tertutup terjadinya perubahan status menjadi pengemis permanen.

        Pertanyaannya apakah dengan peraturan daerah saja permasalahan pengemis akan serta merta bisa terselesaikan. Tidak juga. Semuanya harus dikembalikan kepada akar persoalannya yakni kemiskinan. Karena itu diperlukan pendekatan Kebijakan Pemerintah (pusat dan daerah) jangka panjang; kebijakan pemerintah dalam bentuk pro-growth, pro-poor, dan pro-employment perlu diwujudkan secara nyata dan taatasas. Untuk itu diperlukan pembangunan sosial ekonomi dengan prioritas khalayak tertinggal, penyediaan layanan pendidikan dan kesehatan gratis, penyediaan akses modal usaha dan pemasaran, dan investasi serta pembangunan infrastruktur. Pendekatan ini sekaligus untuk mengurangi jumlah pengemis. Pendekatan Peranserta Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat dalam menghindari kaum tertinggal untuk tidak menjadi pengemis juga perlu ditingkatkan seperti memberikan pelatihan praktis, penyuluhan, dan pemberian dana bergulir.

 

       Setiap ada peristiwa mulai dari lingkungan terdekat sampai nasional bahkan global pasti ada yang berkomentar. Dengan kata lain ada komentar pasti ada sumber yang dikomentari. Misalnya komentar terhadap pendapat seseorang, kelompok, organisasi, atau organisasi yang lebih besar yakni pemerintah. Misal lain komentar tentang kondisi perekonomian bangsa dan dunia, korupsi, bencana alam, iptek, dan bahkan kepulangan tokoh nasional keharibaan Allah. Komentar bisa berbentuk tulisan ataupun lisan. Disampaikan secara terbuka atau tertutup. Ada juga yang mengomentari secara diam-diam atau tersembunyi sambil ngangguk-ngangguk, tersenyum, mengernyitkan dahi, atau bahkan dengan tertawa lebar sendirian. Bahkan ada yang bercanda yang sering kita lihat di jejaring sosial internet, dengan cukup berkomentar seperti mantaap,dahsyat, siip, lanjutkan, hahaha, hehehe, hihihi. Mengapa bisa timbul komentar?.

        Komentar sebenarnya merupakan suatu reaksi atau respon terhadap suatu aksi. Yang dimaksud dengan aksi bisa berupa suatu gagasan, jawaban, perbuatan, dsb. Karena sifatnya maka komentar berupa reaksi bisa direfleksikan wajar-wajar saja, berlebihan, sinis, kerendahan hati, dan penghargaan atau apresiasi. Ketika komentar disampaikan seseorang yang selalu bersifat berpikir negatif dan apriori maka setiap aksi pihak lain cenderung selalu bernada sinis. Tak ada ruang di hatinya untuk mengapresiasi atas gagasan atau perbuatan tertentu. Hati nuraninya selalu hitam kelam oleh pikiran-pikiran negatif. Sebaliknya ketika komentar disampaikan oleh seseorang yang selalu berpikir positif maka walau isi reaksinya tidak menunjukkan kesetujuan atas suatu gagasan atau perbuatan maka disampaikannya dengan santun dan argumen yang masuk akal. Bahkan komentar yang diberikan sering dalam bentuk pendapat dan masukan baru.

        Apakah komentar yang layak bisa dipelajari dan disampaikan sebagai suatu yang bermutu? Tentu saja bisa. Maka yang pertama perlu dilakukan adalah banyak membaca atau memelajari beragam dimensi ilmu pengetahuan dan pengalaman nyata. Semakin menguasai ilmu pengetahuan dan pengalaman nyata semakin trampil seseorang untuk mengomentari dengan baik. Kedua, sering-seringlah berdiskusi untuk mengamati jalannya diskusi dan mulai belajar mengomentari suatu pendapat. Tidak harus gugup atau merasa kikuk apalagi merasa salah jika berkomentar. Lama kelamaan belajar dari kesalahan maka komentar yang disampaikan semakin bermutu. Ketiga, memasuki fase pemeliharaan yakni bagi mereka yang sudah terbiasa berkomentar maka cenderung isinya tidak cukup dengan pernyataan tidak setuju, rumit, ngga benar, tidak layak dan sebangsanya tanpa argumen secuilpun. Pada tahap ini mereka berkomentar dengan argumen yang bisa diterima atau masuk akal.

         Jadi intinya seseorang tidak usah menjadi ilmuwan dahulu yang konon selalu berpikir sistematis untuk menjadi komentator unggul. Siapapun bisa. Tidak kurang dari pegawai (sebagai bawahan) yang mampu ngobrol dengan enaknya mengulas keadaan sosial ekonomi dengan saya. Tidak jarang pula saya begitu terkagum-kagum dengan pekebun di kebun saya mengomentari mengapa terjadi kenaikan harga sembako atau ketidakjujuran sebagian pemimpin. So asalkan seseorang berhasrat tinggi dalam belajar dan belajar bagaimana memperdalam ilmu pengetahuan, memanfaatkan pengalaman sebagai guru terbaik, mengasah pisau analisis walau sesederhana apapun, memiliki rasa ingin tahu, dan mengembangkan soft skills dalam berkomunikasi maka siapapun bisa sebagai pengomentar yang baik. Tidak asal bunyi.

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »