Sedikit demi sedikit saya merasa pengetahuan tentang hukum dan politik semakin bertambah saja. Mulai dari kasus perseteruan Polri dengan KPK , kasus pembunuhan yang melibatkan Anthasari sampai dengan kasus Bank Century. Hampir setiap hari dan setiap moment berita dan persidangan saya ikuti. Baik itu melalui media cetak mapun media elektronik. Rasanya asyik sekali. Nah kalau sudah begitu biasanya di kantor atau di kesempatan apapun kalau bertemu teman-teman atau kerabat hampir setiap pembicaraannya berfokus pada kasus-kasus tersebut.

        Bayangkan saya semakin tahu misalnya apa itu hukum positif, bedanya penyelidikan dan penyidikan; dan bedanya bukti dan alat bukti yang sah, dsb. Sekaligus pula semakin mengetahui lingkup perkara yang detil. Semakin tahu bahwa bahwa fenomena korupsi bisa ditangani oleh institusi polisi, kejaksaan dan KPK. Begitu pula tentang perbedaan wewenang dan tanggung jawab serta dasar-dasar ketentuan hukumnya. Sementara dari kasus Anthasari, saya memeroleh fenomena menarik bahwa tuntutan mati dari jaksa perlu didukung bukti-bukti yang ada selama di persidangan. Istilahnya majelis hakim agaknya harus menguji lagi sebelum memvonis perkara. Kalau dari sisi politik saya semakin tahu apa itu yang disebut hak angket parlemen, fungsi dan peranannya. Bagaimana hak itu diimplementasikan misalnya dengan pembentukan panitia khusus atau pansus. Dan dari pengalaman pansus kasus bank Century, misalnya, saya bisa menilai sejauh mana pengetahuan para anggota panitia membedakan fungsi pansus apakah itu penyelidikan ataukah penyidikan.

        Tidak berlebihan dari proses belajar dalam menelaah kasus-kasus di atas muncullah para analis amatiran; termasuk saya. Yakni analis yang tentunya kurang berbasis kompetensi ilmu atau keakhlian hukum dan politik. Namun dengan pengetahuan seadanya, misalnya analis amatiran tersebut bisa menilai bahwa ternyata suatu keputusan hukum sangat kental dipengaruhi keputusan politik berbasis kekuasaan. Begitu juga bisa dilihat betapa selama sidang terbuka pansus bank Century, kepentingan-kepentingan politik begitu kentalnya. Selain itu sebagian anggota pansus bank Century, ada yang kurang tahu dalam membedakan apa itu penyelidikan dan penyidikan. Ketika berdialog dengan orang-orang yang langsung dan tak langsung berkait dengan kasus ternyata masih ada yang bertindak melakukan penyidikan. Bahkan dengan suara bernada keras. Di sisi lain di antara mereka tidak jarang yang bertindak di luar etika sidang. Padahal mereka sering disebut sebagai anggota parlemen yang terhormat. Perang adu mulut sesama anggota yang semestinya tak perlu ternyata kerap terjadi.

        Yang jelas proses pembelajaran yang saya lakukan adalah dengan mengalami sendiri dalam bentuk mengikuti perjalanan kasus-kasus di atas. Lalu saya memeroleh informasi dari situ berupa fenomena kehidupan. Proses berpikir berjalan begitu saja tanpa ada petunjuk atau manual dan bimbingan guru atau dosen. Sangat beda dengan proses yang terstruktur di kelas formal. Yang saya lakukan mungkin dekat dengan falsafah pembelajarannya Confusius yakni: I hear and I forget;I see and I remember.I do and I understand. Tentunya dalam konteks kasus di atas, saya hanya sebatas pelaku pasif atau tidak terlibat dalam aksi. Sehingga apa yang saya dapatkan sebatas lebih pada pengetahuan dan pemahaman sedikit tentang hukum dan politik. Istilahnya walau baru  tahu tentang kulitnya saja tetapi para analis sudah mampu mencoba mengeritisi secara terbatas fenomena hukum dan politik. Semua pengetahuan yang diperoleh dalam proses belajar tersebut kerap saya sebut bersumber dari universitas kehidupan.

Iklan