Setiap tahun fenomena mutilasi selalu saja muncul. Belakangan ini ada beberapa kejadian perlakuan mutilasi oleh segelintir orang.  Sepertinya suatu ketika fenomena itu bakal menjadi hal yang dianggap biasa-biasa saja oleh sebagian kecil masyarakat yang perilakunya menyimpang. Contoh terakhir adalah sang  Babe yang merasa puas setelah membunuh dengan cara mutilasi terhadap tujuh orang anak “asuhannya” yang berusia 9-14 tahun. Sebelum tewas sang anak disodominya. Apakah itu tindakan kejam? Rasanya setiap orang langsung mengatakan mutilasi adalah tindakan kejam.

        Nanti dulu, jangan kaget. Bergantung pada definisi dan konteksnya. Kita kalau makan daging hewan ternak apapun bentuknya itu kan sudah terpotong-potong (mutilasi). Ketika makan kita tidak merasa risi atau mau muntah. Karena memang tidak ada konteksnya dengan mutilasi pada manusia. Kemudian beberapa tahun lalu ada peristiwa ditemukannya 67 mobil mewah Mercedes Benz, Nissan dan Toyota yang sudah termutilasi. Sedikitnya menjadi dua potongan yang terurai. Kejadian yang disebut terakhir itu kejam bukan dalam arti anti sosial-manusiawi tapi dalam arti kriminal murni. Begitu juga mutilasi yang terjadi pada manusia.

        Namun dalam kenyataannya  ada yang berpandangan berbeda tentang mutilasi terhadap manusia. Tidak semua mutilasi dianggap kejam oleh para pelakunya atau masyarakat yang mempercayainya. Di suatu daerah pedalaman Maluku Tengah pada bulan Juli 2005 ada sebuah suku melakukan mutilasi sebagai ketentuan adat. Terjadi secara tradisi sebagai peninggalan nenek moyang mereka. Atas penetapan kepala suku lalu lima orang anggota suku diperintahkan mencari korban yang berasal dari luar desa itu. Sesuai aturan potongan tubuh harus disembunyikan di hutan dalam lubang bambu (bagian kepala, jantung, lidah dan jari-jari tangan). Para pelaku adalah kelompok masyarakat yang belum memeluk agama yang diakui secara nasional.

         Terlepas dari unsur latar belakangnya, apapun mutilasi menurut hukum acara pidana (KUHAP) adalah perbuatan kriminal. Polisi menyebutnya sebagai perbuatan di luar kewajaran. Jadi harus dituntut secara hukum. Para psikolog mengatakan unsur penyebabnya beragam. Ada yang karena stres berat, epilepsi agresif, sakit jiwa, ketentuan adat kuno, dan memang karena punya jiwa kejam berbasis dendam mendalam sewaktu masih kecil. Dibutuhkan sosialisasi ajaran agama yang sah dalam penanaman kesadaran keluarga tentang perlunya keharmonisan kehidupan sosial secara intensif. Bagi masyarakat adat yang masih tertinggal (buta hukum) dibutuhkan pembinaan intensif dari Dinas Sosial dan pemuka agama setempat.

Iklan