Di pagi cerah beberapa hari lalu seperti biasa saya senang berjalan keliling halaman di belakang rumah. Tak lupa saya lakukan sambil menggendong cucu saya yang ketujuh. Saya memperhatikan pohon salam, jambu, mangga, sawo, sirsak, rambutan binjai, nangka, dan rumput hijau segar, bunga bakung, bunga melati, kembang sepatu, dan anggrek. Di situ tergambarkan ketinggian dan kerindangan pohon yang beragam. Namun semua secara kolektif telah memberikan kenyamanan semarak hijau segar dengan bunga-bunga indah. Desir angin pagi ditambah sekali-sekali bunyi cicit burung membuat perasaan saya semakin hanyut dalam kedamaian.

       Setelah puas menikmati udara segar pagi di luar, kemudian saya masuk ke dalam rumah melihat acara televisi nasional atau membaca koran. Disamping ada berita-berita menyejukkan, di situ ada juga berita yang kontras dibanding ketika saya melihat tanaman di halaman. Yaitu tentang sifat manusia dalam unjuk rasa dan konflik yang dipenuhi oleh angkara murka. Berita pagi itu memperlihatkan orang-orang angkuh dan pemarah. Keonaran itu membuat hati ini sedih, jauh dari kedamaian. Manusia diperlakukan begitu rendahnya berhadapan dengan benteng ketinggian hati.

        Rendah atau pendek adalah lawan dari tinggi. Biasanya orang memandang kondisi rendah dan tinggi untuk hal fisik dan derajat sesuatu. Badan tinggi, pohon tinggi, menara tinggi, gunung tinggi, terbang tinggi itu adalah ukuran fisik. Ukuran itu biasanya menunjukkan kehebatan. Badan tinggi biasanya menandakan gagah. Pohon tinggi merefleksikan pohon yang kuat. Menara dan gunung tinggi serta pesawat terbang tinggi sepertinya sangat ambisi ingin meraih langit. Sementara itu tinggi hati, temperamen tinggi dan suara tinggi adalah ukuran derajat emosi atau kepribadian seseorang. Tinggi hati sering disebut sombong. Temperamen dan suara tinggi umumnya disebut pemarah. Orang lain sering diremehkan. Dan dua sifat ini biasanya kurang disenangi. Bagaimana dengan sesuatu yang rendah atau pendek?

        Ada yang disebut rendah diri (bukan pendek diri) antara lain karena keterbatasan kepemilikan aset materi, fisik tubuh, dan pengetahuan yang rendah. Nah ini sebenarnya tidak perlu karena di mata Allah semua orang adalah sama. Kecuali iman dan takwanya. Banyak orang dengan tubuh yang sangat pendek tapi kepribadian dan karirnya tinggi. Mengapa? Ya karena tidak pendek akal. Sementara di pihak lain ada orang berbadan tinggi besar tetapi semangat hidupnya rendah dan dangkal. Artinya seolah tak berdaya dan cenderung malas serta putus asa. Motivasi hidup kurang. Padahal Allah berkehendak agar tiap insan bekerja keras untuk memakmurkan bumi ini. Contoh lainnya?

        Pohon, selain ada yang tinggi juga ada yang disengaja dibuat sangat pendek (dibonsai). Tapi itu bukan berarti pohon itu tidak kuat. Lihat saja pohon teh sengaja dipangkas agar daunnya lebat dan mudah dipetik. Padahal kalau tidak dipangkas tingginya bisa mencapai lebih dari lima meter. Bahkan pohon beringin yang begitu besar dan kokoh bisa diperpendek melalui metode bonsai. Setelah itu harganya luar biasa mahal. Begitu juga rendah diri di hadapan Allah bukan suatu sifat yang lemah. Justru sifat itu mencerminkan iman dan takwa yang tinggi. Alasannya Allah segala Maha. Tak ada yang mampu menandingiNya.

         Hal ini berbeda dengan sifat rendah diri di hadapan orang lain. Artinya, selain Allah, orang itu menilai orang lain lebih tinggi segalanya dibanding dirinya. Merasa tak berdaya. Jadi itu sifat yang tidak dikehendaki Allah. Kemudian berbeda dengan rendah diri adalah yang disebut rendah hati. Yaitu sifat berkesetaraan dengan orang lain tetapi tidak sombong walau memiliki kelebihan di segala bidang. Tidak mau membuat orang kecewa. Dia sadar apa yang dimilikinya adalah karunia Allah semata. Umumnya tiap orang sangat senang dengan orang yang rendah hati. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan (al-Furqaan; 63). Jadi ternyata sifat rendah hati atau sesuatu yang tidak tinggi (pendek) tidaklah jelek.

Diadaptasi dari Tb Sjafri Mangkuprawira. 2007. Ronawajah, Coretan seorang dosen. IPB Press.

Iklan