Saya memerkirakan setiap inidvidu khususnya yang berusia di atas  balita pernah melakukan push up. Jenis olahraga ini sangat diminati oleh tua-muda dan lelaki-perempuan. Push up (PU) adalah suatu jenis senam kekuatan yang berfungsi untuk menguatkan otot bisep maupun trisep (Wikipedia). Posisi awal tidur tengkurap dengan tangan di sisi kanan kiri badan. Kemudian badan didorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki dan badan tetap lurus atau tegap. Setelah itu, badan diturunkan dengan tetap menjaga kondisi badan dan kaki tetap lurus. Badan turun tanpa menyentuh lantai atau tanah. Naik lagi dan dilakukan secara berulang.

        Apakah PU hanya dilakukan untuk alasan olahraga agar kondisi fisik tubuh menjadi semakin bugar dan sehat? Tidak juga. Di dunia militer, PU dapat menjadi salah satu bentuk hukuman bagi anggotanya yang tidak disiplin. Selain PU bisa saja dalam bentuk lari keliling barak. Bentuk ini bukan barang asing bagi yang terkena hukuman. Tujuannya adalah agar timbul efek jera sehingga kedisiplinan para anggota bisa terujud. Bagaimana dengan di dunia non-militer? Bisa juga diterapkan,misalnya di kalangan kampus yang menekankan kedisplinan tinggi para mahasiswanya. Misalnya di PTIK, Institut Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Maritim, dsb. Lalu bagaimana kalau diterapkan di perguruan tinggi umum?

         Saya kurang mengetahui apakah ada perguruan tinggi umum yang menerapkan hukuman dalam bentuk PU. Tetapi yang jelas saya terinspirasi dengan adanya kasus kriminal yang terjadi di suatu sekolah di Inggeris. Lintas Berita (5-12-08);TEMPO Interaktif, London mewartakan seorang guru di Inggris dihukum penjara setelah terbukti menyuruh murid-muridnya melakukan "push-up" sebagai hukuman lantaran datang terlambat ke sekolah. Untuk itu saya mencoba menjaring beberapa pendapat lewat status saya di facebook kemarin. Kasusnya adalah kalau ada dosen yang menghukum mahasiswanya dengan cara menyuruh PU karena terlambat datang ke ruang kuliah. Ada 13 orang yang menanggapinya. Ada tanggapan berupa pertanyaan, ada yang berpendapat sesuatu, dan ada yang menolak. Alasan penolakannya beragam. Ada yang bernada serius dan ada yang sambil bercanda ria.

         Semua dari mereka sangat tidak setuju diterapkannya sanksi hukuman tersebut di perguruan tinggi umum. Ada yang beralasan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi umum lebih menekankan pada pencapaian kinerja akademik para lulusannya. Selain itu dikembangkan soft skills untuk membangun sikap dan kepribadian lulusan yang mumpuni. Bukan kedisiplinan fisik yang dibangun tetapi kedisiplinan akademik. Misalnya dalam bentuk resiko dari tidak tercapainya minimum kehadiran dalam kuliah dan praktikum. Sanksi diberikan bisa dalam bentuk tidak boleh ikut ujian, pemberian tugas akademik tambahan, dan bahkan sampai keluar kalau ternyata terbukti melakukan plagiat dan menyontek. Dengan cara-cara ini ternyata lebih membuahkan hasil yang efektif untuk menghindari tindakan “kriminalitas” akademik ketimbang dengan PU. Kalau dengan bentuk PU, yang bakal terjadi bukannya efek jera namun ada persaan malu dan sakit hati diperlakukan di depan para teman-teman sekuliah.

          Selain hal yang serius ada juga yang bertanya dengan nada bercanda. Misalnya ada pernyataan yang membuat saya tersenyum yakni dosen yang menghukum dengan cara PU dikatakan cocok sebagai DanYon batalion tentara atau instruktur pendidikan militer. Dan ada juga yang menyamakan dosen seperti itu sebagai dosen olahraga. Selain itu dipertanyakan apakah hukuman PU juga berlaku bagi para mahasiswi yang terlambat datang kuliah. Jangankan tentang keterlambatan mahasiswi tetapi pertanyaan yang hampir mirip juga muncul yakni apa yang harus dilakukan kalau dosennya sendiri sering datang terlambat mengajar? Bukankah hal itu bakal malu-maluin dunia kampus? Ah ada-ada saja.

Iklan