Dua kata, hitam dan gelap, umumnya memiliki cap sesuatu yang negatif. Gambaran sesuatu yang tak diinginkan. Coba kita lihat contoh kata-kata berikut. Kata hitam biasa dipakai antara lain untuk kambing hitam, lembaran hitam, kampanye hitam, daftar hitam, benua hitam, hitam putih, dan ilmu hitam. Sementara kata gelap yang lebih diasosiasikan dengan kejadian illegal, antara lain dipakai untuk  rapat gelap, sebaran gelap, uang gelap, pasar gelap, telepon gelap, imigran gelap, penumpang gelap, kekasih gelap, gelap hati, dan gelap mata. Pertanyaannya apakah kedua kata itu dipakai untuk selalu menggambarkan sesuatu yang penuh kenistaan? Hitam sebagai lambang kematian? Gelap sebagai sesuatu yang tidak senonoh dan melanggar aturan? Dan simbol tak ada harapan? Tidak juga.

        Selain sisi negatif, warna hitam, dapat dipandang sebagai simbol ketegasan. Pengaruhnya kuat dan tidak mudah dikotori warna lain. Warna lain kalau dicampur dengan warna hitam akan mampu memperkuat kesan warna tersebut. Selain itu ketika menulis dan mengetik apapun di atas bahan dasar putih akan lebih dominan ketimbang kalau memakai warna bukan hitam. Dalam konteks nilai komoditi ternyata teh hitam, anggrek hitam, dan pulip hitam banyak dicari konsumen. Pantas saja lalu komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Juga diketahui warna baju hitam yang dipakai seorang wanita konon memberi citra tubuhnya yang gendut jadi langsing. Dan bagaimana pula dilihat dari sisi kecantikan; seperti hitam manis pujaan kaum jomblo pria? Dan bagaimana gambaran hitam dan putih sebagai lambang diskriminasi (orang bule vs orang hitam) ternyata kini cenderung sudah punah? Dan ini tampak ketika banyak kaum hitam yang berprestasi di berbagai sisi kehidupan. Amerika saja dipimpin oleh presiden berwarna kulit hitam.

        Sisi positif dari kata gelap adalah sebagai unsur utama tercapainya keberhasilan suatu kegiatan. Misalnya,tak mungkin kita merasa nyaman menonton film di gedung bioskop kalau ruangannya terang benderang. Tak mungkin pula akan diperoleh foto rontgen dan foto biasa yang standar kalau tidak diproses dalam kamar gelap. Selain itu terdapat ungkapan…ada gelap ada terang. Ada pesimis ada optimis. Ada peluang buat siapapun berubah dari sisi kehidupan yang gelap ke kehidupan yang lebih bermakna. Ingat saja kata-kata dari sesuatu yang belum ada titik terang….lalu berubah….habis gelap terbitlah terang….gelap kan sirna. Begitulah pemaknaan optimis dari kata gelap.

        Dalam prakteknya pemakaian kata atau kelompok kata tersebut bukanlah dalam arti riil atau yang sebenarnya. Tetapi kalau bukan metafora berarti faktual. Sementara kalau metafora  hanyalah sebagai lukisan atau simbol yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Kedua kata itu merupakan metafora kehidupan yang pasti dialami oleh siapapun. Bisa bernada ejekan, kehidupan pesimis tanpa harapan, perilaku amoral, pelanggaran aturan/hukum dsb. Metafora muncul bisa jadi merupakan kumpulan produk kiasan dari bahasa daerah atau mungkin juga datang dari luar negeri. Ungkapannya bisa ditunjukan antara lain dari penggunaan bahasa, ayat kitab suci, hasil arsitektur, penafsirani warna, seni musik dan lagu, proses pembelajaran, dan pemandangan. Bahkan bisa juga dipakai dalam dunia perseteruan antarpenegak hukum  baru-baru ini  yakni “cicak melawan buaya”.

Iklan