Bertepatan dengan hari ibu, tanggal 22 Desember 2009 yang lalu juga dirayakan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Menurut Departemen Sosial RI, Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa. Karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Bagaimana dalam prakteknya?

         Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai bangsa ramah. Kesetiakawanan seperti tolong menolong, kekerabatan sosial, dan gotong royong merupakan perilaku keseharian. Ringan tangan sudah menjadi kebiasaan. Apakah dalam kondisi belakangan ini ciri-ciri kesetiakawanan tersebut masih tampak signifikan? Ya sebagian besar masih ada. Namun ketika proses modernisasi gencar melanda ke setiap sisi kehidupan maka telah terjadi perubahan sosial. Lihat saja kehidupan di daerah perkotaan apalagi megametropolitan. Kehidupan di kalangan entitas mereka dicerminkan dengan sifat individualistik. Selain itu pengaruh media cetak dan elektronik yang sangat maju menyebabkan munculnya demonstration effect pada pola hidup yang semakin konsumptif. Tanda-tanda itu juga sudah merambah ke daerah perdesaan. Sementara gotong royong sebagai bentuk modal sosial yang paling tua semakin terdegradasi sejalan dengan masuknya arus ekonomi uang. Semacam perubahan pola pikir bahwa tak ada jenis kerja pun yang gratis. Disamping itu terjadinya konflik sosial di beberapa daerah merupakan proses perubahan dari modal sosial positif menjadi mengarah pada modal sosial negatif akibat dari kepentingan politik dan bahkan sara.

        Dalam kenyataannya tampak kadar dari modal sosial tidaklah statis. Tidak mudah dihindari perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi cenderung dapat menimbulkan deviasi modal sosial. Timbul perkembangan persepsi tiap individu terhadap hal-hal baru; apakah sebagai ancaman atau justru memerkuat modal sosial yang ada. Selain itu ketika masyarakat sudah semakin memiliki hubungan dengan pihak luar maka dibutuhkan fungsi kendali sosial terhadap setiap norma dan kebudayaan luar yang masuk. Pertanyaannya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh entitas sosial agar dapat membentengi tantangan bahkan ancaman luar.

        Melemahnya modal sosial positif bisa jadi karena diintervensi oleh modal sosial negatif. Kalau masyarakat tidak mampu mengatasinya maka bakal terjadi penggerusan modal sosial positif yang ada; misalnya gangguan terhadap interkasi sosial, saling percaya yang menurun, pelanggaran norma sosial, krisis kepemimpinan dan akhirnya kerenggangan hubungan sosial. Meningkatnya semangat nilai-nilai budaya konsumerisme dan individualistik, misalnya, akan mudah menimbulkan konflik dan perilaku menyimpang. Perilaku yang tidak jarang ditemukan, misalnya primodialisme dan sentiment kedaerahan dan kesukuan bisa jadi dapat menimbulkan kerusuhan sosial. Begitupula yang menyangkut sindikat dan mafia kegiatan illegal dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Hal itu semakin parah karena lemahnya fungsi kontrol sosial dan intensitas komunikasi yang rendah. Lama kelamaan terjadi krisis kepercayaan terhadap institusi sosial lokal yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

        Modal sosial positif adalah syarat utama bagi keberhasilan pengembangan masyarakat. Semakin kuat nilai-nilai sistem sosial atau jaringan sosial semakin meningkatnya volume dan mutu proses dan hasil pengembangan masyarakat. Ukuran outputnya adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Dalam hal ini modal sosial sangat berperan positif dalam mengurangi konflik social. Melalui penerapan kesetiakawan sosial dapat diprogramkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari adanya kepercayaan sebagai modal utama antara lain dalam membangun sifat-sifat atau nilai-nilai kohesi sosial, kebersamaan, toleransi, empati. Selain itu fungsi-fungsi kontrol dalam pengembangan masyarakat relatif longgar karena adanya saling percaya sesama individu dalam suatu kehidupan yang harmoni penuh dengan ciri-ciri kesetiakawanan sosial.

Iklan