Jelang berakhirnya tahun 2009 tak ada salahnya kita mengevaluasi diri. Ada beberapa kecenderungan masalah yang masih dihadapi bangsa ini. Kekayaan alam? No, yang ada semakin parahnya kerusakan lingkungan. Tergerus oleh kerakusan manusia. Kekayaan SDM? No, yang ada cuma banyaknya jumlah penduduk, bukan mutu tinggi. Masih kalah bersaing sekalipun dengan Vietnam. Kekayaan teknologi? No juga, yang ada semakin ‘terlenanya’nya kita sebagai konsumen dan bukan sebagai produsen. Kekayaan martabat? No, yang ada semakin maraknya moral bernama korupsi, ketidakadilan hukum, beralihnya beberapa aset nasional ke pihak asing, miskinnya solidaritas dan merajalelanya konflik sosial. Kekayaan negarawan? No, yang tampak lebih banyaknya yang berpikir pada kepentingan-golongan dibanding memikirkan kepentingan bangsa. Ada yang mudah emosional terhadap kritik. Dan ada yang gemar  saling menyalahkan satu sama lainnya.

       Lalu apanya dong yang masih tersisa? Ya, cuma satu yakni di balik tumpukan kesedihan ada sebukit harapan…bangkitnya bangsa dari keterpurukan. Lalu apa artinya untuk bangsa ke depan? Ya walau seolah kita harus melangkah…mulai dari awal lagi, tetapi tak apa, terpenting masih ada spirit untuk maju. Spirit dan komitmen adalah bentuk mutu sumberdaya manusia yang harus terus dikembangkan. Terbukti masih banyak anak bangsa yang begitu tekun di profesinya ditengah-tengah suasana hiruk pikuk dinamika sosial politik. Karena itu tidaklah keliru kalau kita harus optimis menamaki era ke depan. Insya Allah.