Apa yang terjadi dengan seseorang yang setiap pertimbangan keputusannya selalu didasarkan pada uang? Dalam keadaan seharusnya membantu orang lain tanpa pamrih maka ada saja yang selalu membuat perhitungan balas jasa. Bagi dia tidak dikenal ada istilah gratis. Saya percaya Anda tidak seperti kisah lucu Nasrudin berikut.

      Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggiran sungai, Nasrudin melihat sepuluh orang buta yang ingin menyeberangi sungai. Ia menawarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang. Mereka setuju, dan sang Mullah pun memulai pekerjaannya.

      Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tapi ketika ia sedang sibuk dengan orang yang kesepuluh, orang yang malang itu terpeleset dan hanyut dibawa air. Merasakan ada sesuatu yang salah, kesembilan yang selamat mulai berteriak: "Apa yang terjadi Nasrudin?" "Aku kehilangan uang satu sen." (20 Februari 2004 Republika Online). Tampak bahwa saking materialistisnya Nsrudin mengabaikan nyawa orang lain demi kalkulasi satu sen. Artinya ia telah melanggar hak asasi seseorang untuk hidup.

      Ketika hari ini setiap bangsa sedang merayakan hari HAM Internasional maka perhatian kita semakin tertuju pada sisi kemanusiaan di tanah air. Kekerasan fisik dan mental oleh pihak tertentu dalam menangani kasus hukum masih saja terjadi. Betapa rasa keadilan dalam memutuskan perkara individu masyarakat kalangan miskin yang mencuri barang kecil-kecilan dibanding dengan si kaya yang korupsi milyaran. Betapa juga masih terabaikannya kesejahteraan kalangan fakir miskin dari tanggung jawab negara. Hak individu untuk memeroleh pangan pun masih menjadi masalah yang serius. Karena itu dibutuhkan solidaritas politik dan ekonomi di semua kalangan untuk menegakkan HAM termasuk hak untuk bekerja dan memeroleh kesejahteraan.