Sekurang-kurangnya ada dua peristiwa politik belakangan ini. Yang pertama terbentuknya formasi Pansus Hak angket kasus Bank Century; dan kedua tentang pernyataan presiden tentang kehawatiran kalau aksi hari Anti Korupsi se-dunia 9 Desember diboncengi kepentingan politik dan berujung kerusuhan. Keduanya ditanggapi secara kurang proporsional. Ada yang pesimis tentang kualitas pansus bahkan siap memberi mosi tidak percaya. Padahal pansus belum bekerja sama sekali dan terpilih secara demokratis. Kemudian reaksi berlebihan di sementara tokoh yang mengatakan pidato presiden merefleksikan kehawatiran berlebihan menanggapi rencana aksi hari aksi anti korupsi tsb. Sikap berlebihan “dilawan” dengan berlebihan pula. Maka terjadilah pesta panik ria.

       Panik dapat terjadi ketika berada dalam situasi seorang diri dan dalam kerumunan orang. Makin besar derajad panik yang disertai keegoan seseorang dan lalu berkembang menjadi panik massal, akan semakin membuka banyak peluang jumlah korban yang jatuh. Derajad panik individu sangat dipengaruhi oleh kadar emosi seseorang, baik dalam hal emosi ketakutan, kekhawatiran maupun emosi amarah. Ketika itu, unsur rasional manusia yang berakal sepertinya hilang. Karena itu dalam suasana seperti itu yang sangat dibutuhkan untuk menghindari terjadinya kecelakaan yang fatal adalah menerapkan manajemen panik yang andal.

        Manajemen panik adalah suatu upaya pengolahan sumberdaya emosi dan fisik agar mampu menghindari dan memperkecil kejadian fatal dari suatu kepanikan. Memang unsur fisik penting namun keberhasilan manajemen panik sangat ditentukan oleh faktor ketenangan jiwa. Dengan ketenangan berarti seseorang lebih mudah mengendalikan diri dari emosi ketakutan atau emosi kekhawatiran serta ego yang berlebihan. Semakin tenang semakin kecil peluang terjadinya konflik dan perpecahan yang timbul karena ketidakmampuan mengendalikan emosi.

        Salah satu bentuknya adalah mengevaluasi diri sambil mendekatkan diri pada Tuhan, mencari celah untuk mengelak diri dari pusat musibah politik dan bersolidaritas kolektif tinggi ketika kejadian saling pendapat yang serius datang. Tentunya perlu menjauhi ego masing-masing dengan hanya memenangkan diri masing-masing tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Saling mengingatkan tanpa disertai rasa benci dan curiga sangat dianjurkan. Saling percaya dan toleransi merupakan hal yang substantif. Selain itu, diperlukan kepatuhan dan kedisiplinan terhadap semua aturan yang berkait dengan sisi keamanan. Insya Allah aman damai. Ya Allah berilah kami petunjuk agar bangsa kami dapat mengatasi masalah multidimensi yang sudah berlangsung lama ini.

Iklan