Pasti setiap orang pernah mendengar dan mendengarkan sesuatu. Apakah itu ketika bertemu singkat dengan seseorang di suatu lokasi, dalam rapat, dalam kuliah, dalam pertemuan keluarga, ketika melihat acara televisi, menyetel radio dsb. Apa yang membedakan keduanya? Mudah saja. Kalau anda serius mendengar sesuatu maka artinya anda mendengarkannya. Dengan kata lain, kalau mendengarkan sifatnya lebih aktif. Secara sadar akal pikiran fokus pada objek yang didengarkan dengan penuh perhatian. Sementara kegiatan mendengar bersifat pasif. Lebih merupakan kepekaan dan aktivitas telinga yang mampu menangkap getaran-getaran gelombang suara di sekitarnya. 

       Dalam dunia kerja, mengetahui perbedaan kegiatan mendengar dan mendengarkan menjadi penting. Mengapa demikian? Tidak jarang karyawan begitu lambat menerjemahkan arahan dari atasan dalam melaksanakan tugas-tugasnya karena merasa tidak jelas apa yang diarahkannya. Dengan kata lain karyawan tidak mendengarkan. Akibatnya proses pekerjaan tidak berjalan semestinya. Kalau seperti ini bisa disebabkan dua hal. Pertama sang manajer memang tidak jelas dalam menyampaikan arahannya. Namun bisa jadi arahan sebenarnya sudah jelas namun kemampuan karyawan untuk memahaminya rendah. Hal kedua bisa jadi karyawan hanya sebatas mendengar saja, bukan mendengarkan. Karena itu apa yang didengar tidak mampu diolah menjadi sesuatu yang bermakna. Bisa jadi karena ketika arahan berlangsung sebagian dari karyawan mengobrol dengan rekan-rekannya. Atau karena ada kebisingan lingkungan sekitar. Sehingga para karyawan tidak fokus dalam mendengarkan. Yang terjadi kemudian adalah distorsi informasi. Yang pada gilirannya hal itu mengakibatkan munculnya deviasi proses dan hasil pekerjaan.

        Distorsi informasi yang terjadi pada karyawan bisa jadi karena manajer tidak memberi peluang kepada bawahan untuk bertanya dan menanggapi arahannya. Padahal bisa saja karyawan tidak sepenuhnya memahami apa yang disampaikan manajer. Karena itu ketika ada kegiatan koordinasi, manajer seharusnya mampu mendorong agar karyawan mau bertanya dan menanggapi setiap arahan. Disini atasan perlu memiliki empati dan punya perasaan sejauh mana bawahannya telah memahami apa yang disampaikannya. Manajer seharusnya memberi kesempatan kepada bawahan untuk melatih diri dalam mendengarkan sesuatu. Mendengarkan sesuatu dengan benar adalah ketrampilan yang membutuhkan proses pembelajaran dan praktek nyata dalam berkomunikasi.

         Dalam kasus lain, bagaimana kalau karyawan memiliki masalah tertentu? Apa yang harus dilakukan manajer? Manajer tidak cukup hanya mendengar masalah bawahan dari rekan-rekan kerja karyawannya itu. Dia sebaiknya meminta karyawan tersebut datang menemuinya. Disitu manajer mendengar dan mendengarkan langsung apa yang terjadi pada karyawannya. Dia melakukannya dengan sengaja tanpa harus ada perintah dari manajemen puncak. Secara tulus dia memberi perhatian kepada karyawannya itu. Bahkan diupayakan tidak menunjukkan jarak psikologis antara atasan dan bawahan.

        Mendengarkan menjadi unsur pokok dalam menghargai karyawannya. Dengan demikian karyawan tersebut akan secara rinci menceritakan apa masalah yang dihadapinya. Ketika itu terjadi maka layaknya sebagai konselor, sang manajer tidak harus membantah atau mengiakan setiap informasi yang disampaikan karyawan. Dengan sabar dia menunggu sampai karyawan selesai menjelaskan masalah yang satu ke masalah yang lainnya. Pasalnya mendengarkan tidaklah selalu sebagai bentuk penilaian namun lebih pada empati atasan sebagai pendengar yang baik. Dari situlah manajer pada saatnya bisa menawarkan beberapa pilihan kepada karyawannya untuk mengatasi masalah yang terbaik.

Iklan