Klik adalah sekumpulan orang yang membela kepentingan diri mereka atau golongannya sendiri. Dikenal banyak terdapat pada organisasi politik. Klik itu bisa berbasis tokoh seseorang, ideologi politik, pandangan kedaerahan, berbasis nilai-nilai dasar perjuangan, berbasis kelompok organisasi, dan berbasis kekuasaan. Bagaimana dengan di perusahaan? Bisa saja bermunculan. Apakah itu berkait dengan kepentingan kekuasaan, keuntungan finansial, kebanggaan suatu unit kerja, dan kepentingan pribadi. Klik-klik ini akan semakin berkembang manakala tidak ada tindakan dari manajemen puncak untuk mencegahnya. Bahkan dia sepertinya tidak mampu menangani “perang” konflik antarklik.

       Konflik yang terjadi antarunit sering disebabkan oleh kebanggaan sempit. Misalnya, masing-masing unit membangun kebanggaan tersendiri bahwa unitnyalah yang paling berperan dalam perusahaan. Bisa unit produksi dan bisa unit pemasaran yang merasa dirinya paling berperan. Unit produksi merasa perusahaan tidak akan mampu memenuhi permintaan pasar kalau tidak didukung unit produksi. Sementara unit pemasaran merasa bahwa unit produksi tidak akan mampu melakukan kegiatan produksi kalau tidak ada informasi pasar. Unit pemasaran inilah yang melakukan survei pasar. Begitu pula unit-unit lainnya, seperti unit sumberdaya manusia (SDM), merasa paling berperan karena tak akan mungkin semua proses bisnis berjalan lancar tanpa didukung jumlah dan mutu SDM yang memadai. Tanpa disadari mereka telah membangun “kerajaan” klik di tiap unitnya.

       Perang klik tentunya akan mengganggu jalannya perusahaan. Kalau tidak ditangani akan memerparah keberhasilan suatu proses bisnis. Karena itu manajemen puncak harus mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak serba sistem di kalangan karyawan dan manajernya. Perlu dikembangkan budaya sistem kerja yang efektif yakni saling berkaitannya antarsubsistem perusahaan untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan pendekatan ini maka kebanggaan sempit di tiap unit bisa ditekan sedemikian rupa menjadi kebanggaan bekerja secara kolektif. Antarunit akan mampu bekerjasama dalam suasana kesetaraan peran. Mereka tidak lagi bekerja seolah-olah sendiri namun saling bergantung. Mereka bekerja  secara sinergis dalam kerangka sistem manajemen yang utuh. Ketika itu terjadi maka klik-klik yang ada akan semakin hilang dengan sendirinya diganti dengan suatu sistem bangunan perusahaan yang tangguh.

       Gambaran di atas hanyalah salah satu contoh saja bagaimana permasalahan tentang klik yang dihadapi perusahaan. Belum lagi klik-klik yang berorientasi meraih dan memertahankan kekuasaan dengan memobilisasi karyawan. Apapun bentuk klik, keberadaannya dengan motif yang beragam menunjukkan organisasi atau perusahaan yang kurang sehat. Hal itu seharusnya tidak bisa dibiarkan. Dan mengatasinya dengan pendekatan yang  sesuai dengan karakteristik permasalahannya yang juga beragam. Misalnya pihak manajemen puncak tidak akan efektif menerapkan cara yang sama terhadap klik yang bermotifkan kebanggan peran, berorientasi politik kekuasaan di suatu unit, dan terhadap jenis klik yang berorientasi pada klik kedaerahan. Karena itu yang jauh lebih penting adalah ditanamkannya budaya korporasi. Di dalam budaya itu ada beberapa nilai yang harus menjadi perilaku semua personalia perusahaan seperti efisiensi, kerja kooperatif, kebersamaan, tanggung jawab, kerja keras, kedisiplinan, dan komitmen. Disitu ditanamkan suasana kerja yang nyaman tanpa kehadiran klik-klik yang dapat mengganggu jalannya perusahaan.

Iklan